Kontrol Populasi Pada Anjing

Posted: January 17, 2009 by vet02ugm in Our Paper
Tags: , , , ,

Drh. Amanda Rasul

Smile Pets, JL. Aria Putra No 23 , Ciputat, Tangerang Selatan

Telp: 021 4438 0007 /House Call: 0856 911 39 007

INTISARI

Populasi anjing yang tidak terkontrol menjadi suatu masalah yang harus dipecahakan. Isu kesejahteraan hewan pun menjadi layak diangkat untuk mecapai prinsip kesejahteraan hewan. Penyakit dari anjing yang bersifat zoonosis juga menjadi perhatian khusus untuk keselamatan manusia. Karena hal tersebut kontrol populasi menjadi penting untuk dilakukan. Beberapa metode untuk mencegah kebuntingan pada anjing telah banyak berkembang, diantaranya dengan Immunokontrasepsi dengan protein zona pellucida pada hewan betina, operasi untuk dilakukan sterilisasi pada hewan jantan maupun betina, vaksin antifertilitas dengan imun aktif terhadap luteinizing hormone-releasing hormone (LHRH) pada hewan jantan, penggunaan kontrasepsi kimia, dan penggunaan preparat hormonal. Semua metode tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan yang beragam. Pilihan metode terbaik tentu sangat bergantung dengan kebutuhan. Namun tentunya metode yang terbaik ialah yang memiliki efek samping paling sedikit, murah, mudah, dan lebih efektif.

1

PENDAHULUAN

Banyaknya anjing maupun kucing jalanan di lingkungan sekitar pemukiman penduduk dan juga pusat-pusat kerumunan masyarakat seperti pasar telah memunculkan berbagai permasalahan bagi masyarakat sekitar maupun hewan itu sendiri. Banyaknya kasus-kasus penyakit zoonosis seperti toxoplasmosis, rabies dan penyakit-penyakit zoonosis lainnya yang ditularkan oleh hewan-hewan tersebut khususnya anjing dan kucing merupakan ancaman nyata bagi kesehatan dan jiwa manusia. Bahkan dari penelitian yang dilakukan oleh Tim peneliti Fakulas Kedokteran Hewan Universitas Udayana (Unud), dari 39 sampel kucing yang diteliti, seekor kucing ditemukan positif flu burung yakni di Kabupaten Jembrana. Sedangkan dari 108 sampel anjing di Kabupaten Buleleng, ditemukan tiga ekor anjing positif flu burung (walaupun belum dapat ditemukan berpotensi zoonosis) (Anonim, 2007). Potensi zoonosis dari anjing dan kucing liar ini menjadi lebih besar karena kebersihan dan pola makan dari hewan ini yang pasti sangat buruk. Selain itu kondisi hewan yang terlantar jelas jauh dari prinsip animal welfare yang terdiri dari lima asas kebebasan sebagai tolak ukur kesejahteraan hewan (UK- Farm Animal Welfare Council 1993), diantara Lima Asas Kebebasan (Five Freedoms) tersebut adalah:


– Bebas dari rasa haus dan lapar (Freedom from hunger and thirst)
– Bebas dari rasa tidak nyaman (Freedom from discomfort)
– Bebas dari kesakitan, cedera dan penyakit (Freedom from pain, injury and disease)
– Bebas mengekpresikan prilaku alaminya (Freedom to express normal behaviour)
– Bebas dari rasa takut dan tertekan (Freedom from fear and distress).
Pertumbuhan populasi hewan yang terus meningkat dikarenakan sulitnya dalam melakukan kontrol terhadap perkembang biakannya. Walaupun anjing merupakan hewan mono estrus, yang ovulasinya hanya terjadi satu atau dua kali dalam setahun, namun jumlah kelahiran yang biasanya cukup banyak serta sulitnya mengontrol mereka untuk berkembang biak menjadi masalah tersendiri. Secara normal anjing betina akan mencapai usia pubertas pada umur 7-12 bulan, dengan siklus estrus 5-12 bulan. Waktu ovulasi bervariasi dari anjing yang satu dengan yang lain. Telur yang baru diovulasikan harus melewati pembelahan miotik dengan durasi 2-5 hari dan mungkin terjadi pemasakan sebelum fertilisasi. Fertilisasi terjadi ketika adanya fusi dari dua sel yakni spermatozoa dan ovum untuk membentuk suatu sel tunggal yaitu zygote. Untuk terjadinya fertilisasi ini spermatozoa harus menembus dua membrane pada ovarium. Membrane pertama ialah zona pellucida. Melintasnya spermatozoa ke dalam zona pellucida dipermudah oleh enzim proteolitik yang dilepaskan dari kepala spermatozoa ketika acrosom hilang. Zona pellucida mengalami perubahan sesudah melintasnya spermatozoid (zona reaction) yang menyebabkan sukar dilalui oleh spermatozoa lain. Stadium akhir dari penetrasi spermatozoid ke dalam ovum melibatkan pertautan kepala spermatozoid pada permukaan membrane vitellin. Setelah fertilisasi maka akan terbentuk zygote yang akan membelah menjadi embrio. Embrio akan menuju rongga uterus dan terjadi implantasi yang terjadi sekitar 17-22 hari sesudah perkawinan, lalu diikuti perkembangan organ tubuhnya. Sesudah 21 hari dari perkawinan, terbentuklah cairan yang mengisi membrane fetus yang membesar pada uterus. Lama kebuntingan pada anjing berkisar antara 57-63 hari (Junaidi, 2006). Pertahanan kebuntingan pada anjing tergantung pada sekresi progesterone. Ovarium merupakan sumber utama progesterone yang berfungsi untuk mempertahankan kebuntingan. Aktifitas sekretoris ovarium berada dibawah control hormone gonadotrofik. Sekresi progesterone dari corpus luteum diatur oleh kedua factor luteotropik dan luteolitik. Sumber utama hormone luteotropik ialah glandula pituitary (Junaidi, 2006).
Di negara-negara maju seperti Amerika serikat dan kini bahkan dunia masalah overpopulasi pada hewan menjadi suatu masalah yang sangat serius (Olson, 1993; McNeil; Constandy 2006). Untuk itu dibutuhkan kontrol populasi untuk hewan-hewan tersebut

MACAM-MACAM JENIS KONTRASEPSI PADA ANJING

Ada beberapa cara untuk mencegah terjadinya kebuntingan pada anjing, diantaranya: Immunokontrasepsi dengan protein zona pellucida pada hewan betina, operasi untuk dilakukan sterilisasi pada hewan jantan maupun betina, vaksin antifertilitas dengan imun aktif terhadap luteinizing hormone-releasing hormone (LHRH) pada hewan jantan, penggunaan kontrasepsi kimia, penggunaan preparat hormonal, diantaranya: Prostaglandin F2α dan bromocriptine; Antagonist progesterone anglepristone (alizone); preparat estrogen; GnRH analogue; prolaktin.


I. Kontrasepsi pada Hewan Betina

I.1 Kontrasepsi Hormonal
I.1.1. Prostaglandin F2α dan bromocriptine

Prinsip dari penggunaan kombinasi antara prostaglandin F2α dan bromocriptine ialah menginduksi terjadinya abortus pada anjing (Palmer dan Post, 2002). Bromokriptin merupakan alkaloida ergot semi sintesis dari kelompok ergotoksin dan memiliki daya stimulasi langsung terhadap reseptor dopamine di otak. Peningkatan sekresi dopamine ini identik dengan hormone PIF (Prolactin Inhibiting Factor) yang menyebabkan berkurangnya sekresi prolaktin. Pada akromegalia zat ini digunakan untuk menghambat sekresi hormone pertumbuhan somatropin. Pada manusia resorpsinys di usus sekitar 28%. Di dalam hati bromokriptin akan mengalami biotransformasi (Tjay dan Rahardja, 2002). Berkurangnya sekresi prolaktin ini juga akan menurunkan kadar progesterone dalam darah sehingga dapat menyebabkan abortus. Prostaglandin F2α digunakan untuk mengakhiri kehamilan pada bagian ke dua kebuntingan. Hal ini terjadi karena penyebab luteolisis saat bagian pertama kebuntungan.
Untuk mengetahui keberhasilan penggunaan prostaglandin F2α dan bromocriptine penalitian dilakukan dengan menggunakan 15 anjing betina bunting. Metode yang dilakukan dengan memberikan bromokriptine secara peroral (po) dan prostaglandin F2α secara subcutan (SC). Perlakuan diberikan saat hari ke 6 diestrus. Pada pukul 08.00 Bromokriptin 10µg/ kg diberikan po dengan cara melarutkan 2,5 mg tablet dalam 100 ml air sehingga konsentrasi menjadi 25 µg/ml. 45 menit kemudian diberikan prostaglandin F2α 250µg/ kg sc. Pukul 10.30 anjing tersebut diberi makan, dan pukul 17.00 kembali diberikan Bromokriptin 10µg/ kg po, dilanjutkan dengan pemberian prostaglandin F2α 250µg/ kg sc 45 menit kemudian. Hal ini diulang terus selama 5 hari. Pemberian waktu jeda antara bromkriptine dan prostaglandin F2α untuk mencegah terjadinya muntah.
Setelah 6 kali treatment seluruh anjing menunjukan memiliki konsentrasi progesterone dibawah 2,0 ng/mL. Setelah 2 hari treatment konsentrasi progesterone masih menunjukan lebih dari 2,0 ng/mL, selanjutnya mulai hari ketiga perlakuan baru berada dibawah 2,0 ng/mL (0,93 ng/mL). Efek samping dari penggunaan prostaglandin F2α ialah adanya gangguan pada otot halus, anjing menjadi terengah-engah (panting), muntah, hipersalivasi, urinasi dan defekasi. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa kombinasi antara prostaglandin F2α dan bromocriptine selama 5 hari mampu menyebabkan terjadinya luteolysis sehingga mencegah kebuntingan (Palmer dan Post, 2002).

I.1.2. Preparat Estrogen
Penggunaan sintesis natural estrogen selama 1 sampai 5 hari dapat digunakan untuk mencegah kebuntingan. Pada kondisi normal, seletah terjadi proses pembuahan maka akan terbentuk zygote, kemudian zygote membelah yang disebut dengan embryo. Embryo dalam perkembangannya akan berpindah menuju rongga uterus disusul dengan proses implantasi, yaitu upaya embryo untuk mengadakan hubungan langsung dengan dinding uterus sehingga terjadi hubungan yang erat antara embryo dengan dinding uterus induknya. Pada tahap ini secara normal corpus luteum akan mengeluarkan progesterone untuk memlihara kebuntingan (Hardjopranjoto, 1995), namun dengan adanya pemberian natural estrogen, maka kadar estrogen dalam darah akan meningkat sehingga mengganggu implantasi embryo. Namun metode ini memiliki resiko yang besar terhadap kejadian pyometra. Selain itu dapat pula terjadi non reversible anemia yang dikarenakan terdepresnya bone marrow serta dapat mengakibatkan kematian (Olson et al., 1992).
Penelitian lainnya juga dilaporkan dengan pemberian estradiol benzoate mampu mecegah kebuntingan pada anjing. Prinsip dari pemberian estradiol benzoate ialah menghambat turunnya embryo pada tuba uterine dan meningkatkan kejadian degenerasi embryo. Estradiol benzoate yang efektif diberikan sebanyak 0,02 mg/kg yang diberikan 2 hari setelah kawin ataupun 5 hari setelah ovulasi (Tsutsui et al., 2006)

I.1.3. Antagonist progesterone anglepristone (alizone)
Progesteron dibentuk oleh corpus luteum, plasenta, testes dan kortex anak ginjal dibawah pengaruh FSH dan LH dari hipofisis (Tjay dan Rahardja, 2002). Progesteron merupakan hormone kebuntingan yang dapat menyebabkan penebalan endometrium dan perkembangan kelenjar uterin sebelum terjadinya implantasi dari ovarium yang dibuahi. Selama kebuntingan, progesterone menahan timbulnya ovulasi melalui inhibisi umpan balik FSH dan LH dari adenohipofisis (Frandson, 1992).
Zat-zat anti progesterone akan melawan kegiatan progesterone dengan jalan memblok secara kompetitif reseptornya di organ tujuan. Kehamilan akan dihentikan akibat efek progesterone terhadap endometrium dihambat (Tjay dan Rahardja, 2002).
Penelitian yang dilakukan terhadap 93 ekor anjing betina yang telah dikawinkan dan diberi antagonist progesterone anglepristone (alizone), hanya satu ekor anjing yang menunjukan bunting, sedangkan 92 ekor lainnya tidak bunting. 51 ekor anjing yang tidak bunting tersebut tidak menimbulkan adanya efek samping, sedangkan sisanya menunjukan gejala berupa gatal-gatal, vaginal discharge, nafsu makan yang menurun dan lemah (Hubler. dan Arnold, 2000).

I.1.4. GnRH analogue
Penggunaan gonadrotropin agonist akan menimbulkan folikulogenesis dan ovulasi yang diikuti dengan diperpanjangnya ovaria pasif. Beberapa GnRH agonist mampu menekan gonadal atau mencegah pubertas baik pada hewan jantan maupun betina, diantaranya: including goseralin, buseralin, nafarelin, aza-gly-nafarelin, dan doseralin. Kelanjutan dari penggunaan GnRH agonist pada doisis efektif, estrus fertile tidak diikuti keberhasilan kebuntingan. Hal ini terjadi karena menurunnya regulasi LH (dan FSH) secara terus menerus sehingga akan menekan sekresi progesterone normal sampai pada level yang lebih rendah yang diperlukan untuk kebuntingan selanjutnya (Concannon, 2006).
Implant GnRH analogue dapat menyebabkan terjadinya penekanan pada fungsi reproduksi secara reversible. Pelepasan GnRH analogue deslorelin yang terus menerus akan memberikan hasil berupa aksi antifertilitas yang reversible. Penundaan estrus dapat terjadi hingga 27 bulan (Trigg et al., 2001). Pada anjing liar juga menunjukkan hasil yang baik. Deslorelin mampu menginduksi terjadinya kontrasepsi untuk mencegah terjadinya perkawinan hingga satu periode musim kawin (Bertschinger et al., 2002).

I.2. Immunokontrasepsi
Prinsip dari immunokontrasepsi dengan protein zona pellucida ialah mecegah terjadinya fertilisasi dengan adanya antibody yang akan mengacaukan identifikasi antigen determinan sehingga mencegah penetrasi spermatozoa ke dalam oocyt sehingga tidak terjadi fertilisasi (Brown et al., 1985; Ringleb et al., 2004).

I.3. Operasi
Pencegahan kebuntingan dapat pula dilakukan dengan metode operasi, yakni dengan dilakukan ovareictomy maupun panhysterectomy. Hysterectomy merupakan suatu operasi yang dilakukan pada hewan betina untuk mensterilkan / memandulkan hewan tersebut, yang dilakukan dengan melakukan pengangkatan uterus, namun hewan tersebut masih mampu untuk memproduksi feromon dan estrus (Frandson, 1996., Lane and Cooper, 1994). Panhysterectomy atau ovariohysterectomy adalah suatu operasi pada hewan betina yang mirip dengan hysterectomy, berguna untuk mensterilkan/memandulkan hewan tersebut, sehingga tidak dapat lagi mengalami estrus, kawin, dan beranak, namun dilakukan tidak hanya dengan pengangkatan uterus saja, melainkan dilaksanakan dengan pengangkatan organ mulai dari uterus sampai ovarium dari hewan betina tersebut (Smith, 1965).


II. Kontrasepsi pada Hewan Jantan

II.1. Kontrasepsi Hormonal
II.1.1. Prolaktin

Pemeberian ijeksi prolaktin merupakan salah satu metode yang dapat digunakan sebagai alat kontrasepsi pada anjing. Pada sebuah penelitian pada anjing jantan, injeksi prolaktin diberikan dengan dosis 600µg/kg tiap minggu selama 6 bulan. 3 bulan setelah pemberian prolaktin hasilnya menunjukan jumlah sperma menurun (azoosperma), penurunan motilitas spermatozoa, dan peningkatan sperma yang abnormal. Biopsy testis menunjukan adanya degenerasi pada tubulus seminiferus. Anjing-anjing yang telah diberikan injeksi prolaktin tersebut dikawinkan dengan anjing betina, namun tidak ada satupun anjing betina yang bunting. Tiga bulan setelah penghentian injeksi prolaktin, jumlah sperma terlihat normal dan anjing mampu mengawini anjing betina hingga bunting. Keturunan dari anjing-anjing tersebut tidak ada kelainan. Sehingga prolaktin merupakan kontrasepsi yang bersifat reversible pada anjing jantan (Shafik, 1994).

II.1.2. GnRH Analogue
Spermatogenesis dan testosterone dipengaruhi oleh sekresi FSH dan LH dari pituitary, yang mana akan dapat ditekan dengan adanya konsentrasi yang tinggi dari GnRH yang terus menerus. Penggunaan GnRH pokeweed antiviral protein (PAP) pada anjing jantan dewasa akan merusak parameter reproduksi pada minggu ke tiga setelah treatment. Setelah diberikan GnRH PAP satu hari sekali selama tiga hari menunjukan adanya penekanan pada pelepasan LH dari pituitary. Kondisi ini akan seiiring dengan mereduksinya konsentrasi serum testosterone dan ukuran testis. Kontrasepsi yang terjadi dengan pemberian GnRH PAP bersifat reversible, karena setelah lima bulan fungsi pituitary untuk menghasilkan LH akan kembali normal (Sabeur, 2003).
Penelitian lainnya melaporkan penggunaan implant yang mengandung GnRH agonist deslorelin mampu memberikan efek kontrasepsi reversible. Penelitian yang menggunakan 8 anjing jantan dewasa (4 anjing sebagai kontrol) menunjukan hasil yakni anjing yang diberikan implant GnRH agonist deslorelin 6 mg secara subkutan, konsentrasi plasma LH dan testosterone tidak terdeteksi setelah 21 dan 27 hari perlakuan. Setelah 14 minggu perlakuan volume testicular akan menurun 35%, dan setelah 6 minggu perlakuan tidak ada lagi ejakulasi. Konsentrasi testosterone akan kembali terdeteksi setelah 44 minggu perlakuan, sedangkan konsentrasi LH terdeteksi setelah 51 minggu perlakuan dan akan kembali normal setelah 52 minggu perlakuan. Karakteristik anjing akan kembali normal setelah 60 minggu pemberian implant (Junaidi et al., 2003). Penelitian pada anjing liar juga menunjukan hasil yang serupa, yakni dengan menggunakan 6 mg deslorelin mampu memberikan respon kontrasepsi selama kurang lebih 12 bulan. Dari penelitian tersebut dijelaskan tidak ada efek samping maupun perubahan kelakuan pada anjing tersebut (Bertschinger et al., 2002).

II.2. Vaksine anti Fertilitas
Penggunaan vaksin antifertilitas dengan imunisasi aktif terhadap LHRH juga dapat mencegah kebuntingan. LH merupakan hormon yang berfungsi merangsang sel-sel interstitial untuk menghasilkan testosterone (Frandson, 1996). Secara normal anjing jantan memiliki plasma testosterone berkisar 0,4 sampai 6 ng/ml, dan konsentrasi LH dari 0,2 sampai 12,0 ng/ml selama periode 24 jam (Junaidi, 2006).
Penelitian yang dilkukan terhadap anjing yang diberikan vaksin antifertilitas dengan imun aktif terhadap LHRH menunjukan terjadi penurunan yang signifikan pada serum testosteron, bahkan pada minggu ke empat perlakuan menunjukan kadar serum testosterone mencapai dibawah 0,01 nmol/L yang berarti sama dengan serum testosterone anjing yang telah dikastrasi. Gambaran histologis dari testis menunjukan adanya kerusakan pada spermatogenesis yang berarti anjing menjadi infertile, selain itu volume testicular juga akan mengecil. Jadi imunisasi aktif terhadap LHRH mampu mendepres fungsi testikular (steroidogenesis dan spermatogenesis) pada anjing jantan. Namun kontrasepsi ini bersifat reversible, berbeda dengan kastrasi maupun vasektomi. Beberapa keuntungan dari penggunaan vaksin antifertilitas dengan imunisasi aktif terhadap LHRH ialah: 1) bebas dari bahaya maupun efek samping anastesi, 2) biaya lebih murah, 3) kemungkinan reversibility, dan 4) kemungkinan mencegah carcinoma pada testis maupun prostat (Ladd et al., 1994).

II.3. Kontrasepsi Kimia
Sterilisasi kimiawi merupakan suatu pilihan untuk sterilisasi tanpa tindakan operasi. Penelitian yang dilakukan pada 15 anjing jantan yang berusia 2-3½ tahun dengan pemberian zinc arginine sebanyak 0,5 ml (50 mg) pada cauda epididymis menunjukan terjadinya azoosperma pada hari ke sembilan setelah injeksi. Satu tahun setelah injeksi anjing tersebut sudah menjadi steril. Gambaran histology menunjukan tubulus seminiferus anjing nampak normal, namun terjadi atrophy pada ukuran testis dan peningkatan jaringan konektif. Hasil penelitian ini menyatakan injeksi intra epidermal dengan zinc arginine mampu membuat anjing jantan steril secara permanent (Fahim et al., 1993).
Penggunaan preparat kimiawi lainnya, yakni dengan zinc gluconate solution yang stabil juga mampu menyebabkan sterilitas yang permanent. Penelitian yang dilakukan pada 5 ekor anjing jantan dewasa yang telah diberikan injeksi zinc gluconate solution secara intratesticular, menunjukan kondisi anjung yang mampu penile ereksi, namun anjing tersebut tidak dapat ejakulasi. Gambaran histopatologi menunjukan adanya complete fibris pada tubulus seminiferus dan sel leydig pada hari ke 60 dan 75 (Tepsumethanon et al., 2005)

II.4. Operasi
Sterilitas yang permanent dapat dilakukan dengan kastrasi maupun vasektomi.

Kesimpulan

Kontrol populasi merupakan hal yang penting bukan saja untuk kesejahteraan hewan namun juga untuk kenyamanan hidup manusia. Beberapa metode yang dapat digunakan untuk mencegah terjadinya kebuntingan dapat bersifat reversibel maupun permanent. Kontrasepsi yang bersifat permanent diantaranya: Immunokontrasepsi dengan protein zona pellucida pada hewan betina, Operasi untuk dilakukan sterilisasi pada hewan jantan maupun betina, Penggunaan kontrasepsi kimia. Kontrasepsi yang bersifat reversible diantaranya: Vaksin antifertilitas dengan imun aktif terhadap luteinizing hormone-releasing hormone (LHRH) pada hewan jantan dan Penggunaan preparat hormonal. Metode yang digunakan untuk mencegah kebuntingan tersebut memiliki keunggulan dan kerugian yang beragam.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Flu Burung ditemukan pada Anjing dan Kucing. Headline news. Jum’at, 19 Januari 2007.11:04 WIB

Bertschinger, H.J., Trigg, T.E., Jochle, W., dan Human, A. 2002. Induction of contraception in some African wild carnivores by downregulation of LH and FSH secretion using the GnRH analogue deslorelin. Reprod Suppl. 60:41-52.

Brown, C.A.M., Yanagimachi, R., Hoffman, J.C., Huang, T.F.JR. 1985. Fertility Control in the Bitch by Active Immuniziation with Procaine Zone Pellucide: Use of Different Adjuvants and Patterns of Estradiol and Progesterone Level in Estrous Cycles. Biology of Reproduction. 32: 761-772.

Concannon, P.W. 2006. Use of GnRH Agonists and Antagonists for Small Animal Contraception. Proceedings of the Third International Symposium on Non-Surgical Contraceptive Methods for Pet Population Control

Fahim, M.S., Wang, M., Sutcu, M.F., Fahim, Z., danYoungquist, R.S. 1993. Sterilization of dogs with intra-epididymal injection of zinc arginine. Epub Contraception. 47(1):107-22.

Frandson, R. D., 1996. Anatomi dan Fisiologi Ternak, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Hardjopranjoto, S. 1995. Ilmu Kemanjiran pada Ternak. Airlangga University Press. Surabaya.137-143.

Hubler, M. dan Arnold, S. 2000. Prevention of pregnancy in bitches with the progesterone antagonist anglepristone (alizone). Schweiz Arch Tierheilkd. 142(7):381-6

Junaidi, A. 2006. Reproduksi dan Obsterti pada Anjing. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Junaidi, A., Williamson, P.E., Cummins, J.M., Martin, G.B., Blackberry, M.A., dan Trigg, T.E. 2003. Use of a New Drug Delivery Formulation of the Gonadotrophin-Releasing Hormone Analogue Deslorelin for Reversible Long-term Contraception in Male Dogs. Csiro Publishing Reproduction, fertility and Development. 15: 317-322.

Ladd, A., Tsong, Y.Y., Walfield, A.M., dan Thau, R. 1994. Development of an Antifertility for Pets Based on Active Immunuziation against Luteinizing Hormone-Releasing Hormone. Biology of Reproduction. 51: 1076-1083.

Lane, D.R. dan Cooper, B., 1994, Veterinary Nursing, Pergamon, England.
McNeil, J. dan Constandy, E. 2006. Addressing the problem of pet overpopulation: the experience of New Hanover County Animal Control Services. J Public Health Manag Pract. 12(5):452-5.

Olson, P.N., Johnston, S.D., Root, M.V., Hegstad, R.L. 1992. Terminating pregnancy in dogs and cats. Anim Reprod Sci. 28: 399-406.

Olson, P.N. dan Moulton, C. 1993. Pet (dog and cat) overpopulation in the United States. J Reprod Fertil Suppl. 47: 433-8.

Palmer, C.W dan Post, K. 2002. Prevention of Pregnancy in the Dog with a Combination of Prostaglandin F2α and bromocriptine. Can Vet J. 43: 460-462.

Ringleb, J., Rohleder, M., dan Jewgenow, K. 2004. Impact of Feline Zona Pellucida Glycoprotein B-derived Synthetic Peptides on in vitro Fertilization of Cat Oocytes. Biology of Reproduction. 127: 179-186

Sabeur, K., Ball, B. A., Nett, T. M., Ball, H. H., dan Liu, I. K. M. 2003. Effect of GnRH conjugated to pokeweed antiviral protein on reproductive function in adult male dogs. Reproduction.. 125: 801–806.

Shafik, A. 1994. Prolactin injection, a new contraceptive method: experimental study. Epub Contraception. 50(2):191-9.

Smith, K.W. 1965. Canine Surgery, American Vetrerinary Publications, Santa Barbara California.

Tepsumethanon, V., Wilde, H., dan Hemachudha, T. 2005. Intratesticular injection of a balanced zinc solution for permanent sterilization of dogs. J Med Assoc Thai. 88(5):686-9.

Tjay, T.H. dan Rahardja, K. 2002. Obat-obat Penting Khasiat, Penggunaan dan Efek-efek Sampingnya. Elexmedia Komputindo. Jakarta.

Trigg, T.E., Wright, P.J., Armour, A.F., Williamson, P.E., Junaidi, A., Martin, G.B., Doyle, A.G., dan Walsh, J. 2001. Use of a GnRH analogue implant to produce reversible long-term suppression of reproductive function in male and female domestic dogs. J Reprod Fertil Suppl. 57:255-61.

Tsutsui T., Mizutani W., Hori T., Oishi K., Sugi Y., dan Kawakami E. 2006. Estradiol benzoate for preventing pregnancy in mismated dogs. Epub Theriogenology. 66(6-7):1568-72.,

Comments
  1. Doolittle says:

    Yg paling cocok dIndonesia ytc ini method apa da?

  2. aldi says:

    mungkin di indonesia yg paling bisa diterapkan adalah metode eliminasi alias dikurangi populasinya secara langsung. tindakan pencegahan seperti yang disebutkan di atas relatif membutuhkan dana, yang tentu saja pemerintah lebih senang untuk mengalokasikan ke sektor lain.

    operasi untuk dilakukan sterilisasi pada hewan jantan maupun betina atau penggunaan kontrasepsi kimia membutuhkan biaya yang tidak murah, lebih baik anjing dijual untuk dijadikan sate misalnya, yang tentu saja justru menguntungkan banyak pihak.

    • eva says:

      anjing bukan hewan tenak, jadi tidak boleh untuk dikonsumsi….

      • vet02ugm says:

        bukan hewan ternak, tidak lantas tidak boleh dikonsumsi. mayoritas dari kita memang tidak mengkonsumsi anjing, tetapi bukan berarti tidak ada yang mengkonsumsi anjing, bukan?

  3. Zita says:

    tapi di Indonesia ini juga ada kok program-program pengeliminasian anjing dengan cara sterilisasi massal di lapangan maupun di klinik yang baru mencari nama.

    Sebut saja Yudhistira yang besar di Bali.
    kemudian iCare, dan Care (beda tipis,, tapi beda organisasi)
    dan lain sebagainya.

    bahkan kemaren pas saya menghadiri conference di Bali, banyak penyumbang yang bersedia menyumbangkan dana untuk program tersebut.

  4. Doolittle says:

    Kykñ emang eliminasi yg plg cocok.kmrn habis kastrasi,lumayan lama,1,5jam,cuma dpt 2 testis.bayangin kalo pake striknin..bisa puluhan testis terkumpul..

    Aq pernah dgr cerita pengabdian teman duda,drh.aning.dia tugas dNTT.wah..yakin,kalo aq g bakal tahan..,dgn fasilitas yg super minim dia bekerja sgt maksimal.. Bayangin 3kasus gigitan each day,blm lg kasus PHMN lainnya dgn kontur alam yg berbukit,srg longsor,byk hutan,listrik g stabil,harga brg yg mahal,jauh dr keramaian,dan tantangan2 lainnya..

    Sori,blm s4 posting.cpu q br djual utk beli beras dan sewa rumah..

  5. Doolittle says:

    Handsome?some hand,iya.

  6. Kunta says:

    Doolittle siapa y?

  7. Zita says:

    kastrasi anjing 1,5 jam?? lama banget?? 20 menit harusnya jadi tuh, cuma tinggal nunggu biusnya doang yang lama. .

    beli beras dan sewa rumah?? segitunya ya??
    sapa sih doolittle??

  8. Doolittle says:

    Iya,lama bgt.. Anjingnya ajib,g mau teler2 jg..dosis rangkap jadinya..he2,jadi malu..3x lbh lama dr yg standar..:$

    Sedikit cerita ttg case tsb.waktu tu,ada anjing penjaga yg kayaknya depresi dtinggal kekasihnya.puncak depresinya anjing tu makan testisnya sendiri sampe tinggal dikit..kasihan..
    Akhirnya testisnya dCabut n scrotumnya dCangkul habis..

    Tapi plg cepat kastrasi babi..g pake bius..langsung jepit pake tang,.he2 g terbayang sakitnya..

  9. Doolittle says:

    Please..dont be too anxious about my identity..

    Aq temen kalian jg, dulu waktu kuliah memang jrg gaul n terkenal bego…:$

  10. maida says:

    memang injeksi prolaktin ada sediaannya? klo ada dimana? aQ jg mau penelitian n pake pembandingnya injeksi prolaktin
    please jawab ya

  11. Doolittle says:

    Ada kyknya..tp kalo g ada cb cari derivatnya

  12. amandaRasul says:

    opini saya mengenai metode yang paling tepat tergantung daerah tersebut.jika pemerintah daerah tersebut memiliki dana untuk sterilisasi(kastrasi,vasectomi,OHE,HE) dan memungkinkan untuk melakukannya, merupakan pilihan yang paling tepat. tindakan pemusnahan anjing mungkin bisa dilakukan untuk anjing liar yang kiranya membahayakan keselamatn manusia, asalkan metode pemusnahan tersebut tidak menyiksa si anjing

    ketersediaan peparat prolaktin di Indonesia, saya sendiri kurang tahu. penelitian tersebut dilakukan di cairo, mesir.
    link: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/sites/entrez

  13. y0vaportal says:

    musti baca juga http://www.paspartoo.com sebagai bahan kajian

  14. d3 fkh ugm says:

    salam kenal dan semoga sukses

  15. Good says:

    Bro, jadi kalo saya suntik anjing saya dengan dengan suntikan KB manusia (depoprogestin / cyclogeston), dia bukan saja tetap hamil, tapi malah semakin memelihara kehamilannya kah?
    Bisa minta saran obat injeksi i.m apa yang bisa dibeli di apotik untuk disuntikkan pada anjing? (saya dokter umum).
    Thanks😀

  16. Good says:

    maksudnya untuk kontrasepsi😛

  17. aldi says:

    klo pengalaman beberapa rekan, penyuntikan progesteron ke anjing dalam jangka pendek emang efektif sebagai kontrasepsi, tetapi dalam jangka panjang justru menyebabkan pyometra.
    menurut saya, ovariohisterektomi masih menjadi pilihan terbaik, apalagi untuk anjing kesayangan.

  18. amandaRasul says:

    @Good: dalam tuisan saya, yg saya dapatkan ialah dengan anatagonist progesteron (alizone). alizone digunakan pada anjing yang sudah dikawinkan. secara teori, pemberian progesteron digunakan untuk menghambat meningkatnya estrogen, sehingga menghambat terjadinya estrus.
    selanjutnya, saya rasa anda sangat mengerti kode etik =)
    thx

    • amelia says:

      saya punya anjing betina umur 7 tahun, setahun yang lalu dioperasi steril tapi tetap meninggalkan indung telurnya. tapi sejak sebulan yang lalu mulai terjadi perdarahan netes sudah saya beri sangobion dan transamin setengah dosis manusia . tetapi perdarahan tetap saja . mohon saran dari teman 2 .tindakan apa yg bisa dlakukan atau obat apa yg tepat?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s