Penanganan dan Pencegahan Kasus Penyakit Rabies

Posted: February 9, 2009 by vet02ugm in Article

drh. Dyah Mahendrasari

Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Negeri Semarang

Rabies merupakan suatu penyakit hewan menular akut yang disebabkan oleh virus neurotropik dari ss RNA virus; genus Lyssavirus; famili Rhabdoviridae. Virus Rabies termasuk dalam serotipe 1, serotipe 2 (Lagos bat virus), serotipe 3 (Mokola rhabdovirus), dan serotype 4 (Duvenge rhabdovirus).

Rabies menyerang sistem syaraf pusat hewan berdarah panas dan manusia. Bersifat zoonosis yaitu dapat menular pada manusia lewat gigitan atau cakaran. atau dapat pula lewat luka yang terkena air liur hewan penderita rabies Hewan yang terinfeksi dapat berubah menjadi lebih agresif/ ganas dan dapat menyerang manusia.. Rabies sangat berbahaya, bila ditemukan gejala klinis dan penanganannya tidak benar biasanya diikuti kematian, baik pada hewan maupun manusia.

Tanda-Tanda Penyakit Rabies Pada Hewan Dan Manusia

Pada hewan, penyakit Rabies dibedakan menjadi 2 bentuk, yaitu bentuk diam/tenang (Dumb Rabies) dan bentuk ganas (Furious Rabies).

Tanda – tanda Rabies bentuk diam/tenang (Dumb Rabies) :

  • Suka bersembunyi di tempat yang gelap dan sejuk.

  • Terjadi kelumpuhan tubuh, hewan tidak dapat mengunyah dan menelan makanan, rahang bawah tidak dapat dikatupkan dan air liur menetes berlebihan.
  • Kejang berlangsung singkat dan kadang sering tidak terlihat.

  • Tidak ada keinginan menyerang atau mengigit. Kematian akan terjadi dalam beberapa jam.

Tanda – tanda Rabies bentuk ganas (Furious Rabies) :

  • Hewan menjadi tidak ramah, agresif dan tidak lagi menurut pemiliknya.

  • Air liur keluar berlebihan, nafsu makan hilang, suara menjadi parau

  • Menyerang dan menggigit apa saja yang dijumpai.

  • Bila berdiri sikapnya kaku, ekor dilengkungkan ke bawah perut diantara kedua paha belakangnya .

  • Anak anjing menjadi lebih lincah dan suka bermain, tetapi bila dipegang akan menggigit dan menjadi ganas dalam beberapa jam.

  • Kejang-kejang kemudian lumpuh, biasanya mati setelah 4-7 hari timbul gejala atau paling lama 12 hari setelah penggigitan.

Pada hewan pemamah biak, tanda klinis rabies ditandai hewan menjadi gelisah, gugup, liar dan rasa gatal pada tubuh, terdapat kelumpuhan pada kaki belakang dan akhirnya hewan akan mati.

Tanda-Tanda Rabies Pada Manusia

  • Stadium permulaan rabies sulit diketahui, sehingga perlu diperhatikan riwayat gigitan hewan penular rabies seperti anjing, kucing dan kera .

  • Timbul gejala-gejala lesu, nafsu makan hilang, mual, demam tinggi, sakit kepala, dan tidak bisa tidur.

  • Rasa nyeri di tempat bekas luka gigitan dan nampak kesakitan serta menjadi gugup, bicara tidak karuan, dan selalu ingin bergerak

  • Rasa takut pada air yang berlebihan, peka suara keras dan cahaya serta udara.

  • Air liur dan air mata keluar berlebihan, pupil mata membesar.

  • Kejang-kejang lalu mengalami kelumpuhan dan akhirnya meninggal dunia. Biasanya penderita meninggal 4-6 hari setelah gejala-gejala / tanda-tanda pertama timbul.

Diagnosa

Rabies dapat dilakukan dengan berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan histopahtologis jaringan otak, (hippocampus, cortex, medulla oblongata), test DFA dari jaringan kulit-biopsi kulit dari sensory vibrissae dari area maxillary, termasuk folikel rambut subkutan terdalam. ELISA, identifikasi antibodimonoklonal, isolasi secara biologis pada hewan percobaan dan identifikasi virus dengan uji serologis seperti FAT, immunoperoxide, VN, dan FAVN.

Diferensial diagnosis

Hewan yang diduga rabies harus cermat dan serius saat monitoring/observasi, apabila anjing dan kucing memperlihatkan perubahan perilaku atau menunjukkan gejala syaraf yang tidak diketahui sebabnya. Gejala syaraf kadang dapat diakibatkan oleh penyakit syaraf – tumor otak, viral encephalitis, luka kepala, paralysis laryngeal, maupun infeksi virus pseudorabies.

Cara Penularan

Semua hewan berdarah panas rentan terhadap rabies serta berpotensi menularkan rabies pada manusia. Hewan-hewan yang biasa menyebarkan penyakit rabies adalah anjing, kucing, kelelawar, kera, dan karnivora liar. Lebih dari 90% kasus rabies pada manusia ditularkan oleh anjing.

Pada hewan penderita Rabies, virus terdapat di susunan syaraf pusat dan ditemukan dengan jumlah banyak pada air liurnya. Virus ditularkan ke hewan lain atau ke manusia melalui luka gigitan hewan penderita rabies dan luka yang terkena air liur hewan atau manusia penderita rabies.

Masa inkubasi penyakit Rabies pada hewan timbul kurang lebih 2 minggu (10 hari – 8 minggu) setelah gigitan hewan rabies. Sedangkan pada manusia 2-3 minggu sampai 1 tahun, tergantung pada lokasi luka gigitan (jauh dekatnya luka dengan susunan syaraf pusat), banyaknya syaraf pada sekitar luka gigitan, pathogenitas dan jumlah virus yang masuk melalui luka gigitan, jumlah luka gigitan, serta dalam dan parahnya luka bekas gigitan

Penanganan Kasus Hewan Penderita Rabies

Seseorang yang digigit hewan penderita rabies penanganan yang dilakukan harus ditangani dengan secepat dan sesegera mungin, hal tersebut bertujuan untuk mengurangi efek maupun mematikan virus rabies yang masuk ke tubuh melalui luka gigitan :

  1. Usaha yang paling efektif untuk dilakukan adalah dengan segera mencuci luka gigitan dengan air bersih dan sabun atau deterjen selama 5-10 menit dibawah air mengalir/diguyur. Lalu keringkan dengan kain yang bersih..

  2. Luka diberi antiseptik (obat luka yang tersedia misalnya betadine, obat merah, alkohol 70%, Yodium tincture atau lainnya) lalu dibalut dengan pembalut yang bersih.

  3. Penderita luka gigitan harus segera dibawa ke dokter, Puskesmas atau rumah sakit yang terdekat untuk mendapatkan pengobatan sementara maupun perawatan lebih lanjut, sambil menunggu hasil observasi hewan tersangka rabies.

  4. Walaupun sudah dilakukan pencucian luka gigitan, penderita harus dicuci kembali lukanya di Puskesmas atau rumah sakit.

  5. Luka gigitan dibalut longgar dan tidak dibenarkan dijahit, kecuali pada luka yang sangat parah. Jika keadaan terpaksa dilakukan penjahitan, maka harus diberikan serum anti rabies (SAR) sesuai dosis, selain itu dipertimbangkan perlu tidaknya pemberian vaksin anti tetanus, maupun antibiotik dan analgetik.

Hewan – hewan yang mengigit manusia dan dicurigai menderita rabies, maka harus diambil tindakan sebagai berikut :

  1. Hewan yang menggigit harus ditangkap dan dilaporkan ke instansi terkait ( Dinas Peternakan dan Pertanian ) untuk dilakukan observasi dan diperiksa kesehatannya selama 10 – 14 hari.

  2. Jika mati dalam observasi maka kepala anjing tersebut dikirim ke laboratorium untuk kepastian diagnosa penyebab kematian. Tetapi bila hasil observasi negatif rabies yaitu hewan tetap hidup, maka hewan divaksinasi anti rabies

  3. Hewan pasca observasi dan sudah disuntik rabies, dapat dikembalikan kepada pemiliknya. Apabila tidak diketahui pemiliknya (hewan liar) maka hewan dapat dimusnahkan atau diberikan pada orang yang berminat memelihara.

  4. Bila hewan yang menggigit sulit ditangkap, maka harus dibunuh dan diambil kepalanya untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium.

  5. Bila hewan yang menggigit tidak dapat ditemukan, maka orang yang mengalami gigitan harus dibawa ke rumah sakit khusus.

Pengobatan

Pada hewan tidak ada pengobatan yang efektif, sehingga apabila hasil diagnosa positif rabies, diindikasikan mati/euthanasia. Sedangkan pada manusia dapat dilakukan pengobatan Pasteur, pemberian VAR dan SAR sesuai dengan prosedur standar operasi (SOP).

Pencegahan Rabies

Kasus zoonosis yaitu penyakit menular dari hewan ke manusia, cara penanganannya dan pencegahannya ditujukan pada hewan penularnya. Pada manusia, vaksin rutin diberikan kepada orang-orang yang pekerja dengan resiko tinggi, seperti dokter hewan, pawang binatang, peneliti khusus hewan dan lainnya.

Selain itu pencegahan rabies pada hewan dapat dilakukan dengan cara :

  1. Memelihara anjing dan hewan lainnya dengan baik dan benar. Jika tidak dipelihara dengan baik dapat diserahkan ke Dinas Peternakan atau para pecinta hewan.

  2. Mendaftarkan anjing ke Kantor Kelurahan/Desa atau Petugas Dinas Peternakan setempat.

  3. Pada hewan virus rabies dapat ditangkal dengan vaksinasi secara rutin 1-2 kali setahun tergantung vaksin yang digunakan, ke Dinas Peternakan, Pos Kesehatan Hewan atau Dokter Hewan Praktek

  4. semua anjing/kucing yang potensial terkena, divaksin setelah umur 12 minggu, lau 12 bulan setelahnya, dilanjutkan dengan tiap 3 tahun dengan vaksin untuk 3 tahun, untuk kucing harus vaksin inaktif

  5. Penangkapan/eliminasi anjing, kucing, dan hewan lain yang berkeliaran di tempat umum dan dianggap membahayakan manusia.

  6. Pengamanan dan pelaporan terhadap kasus gigitan anjing, kucing, dan hewan yang dicurigai menderita rabies.

  7. Penyuluhan kepada masyarakat tentang penyakit rabies.

  8. Menempatkan hewan didalam kandang, memperhatikan serta menjaga kebersihan dan kesehatan hewan.

  9. Setiap hewan yang beresiko rabies harus diikat/dikandangkan dan tidak membiarkan anjing bebas berkeliaran.

  10. Menggunakan rantai pada leher anjing dengan panjang tidak lebih dari 2 meter bila tdak dikandang atau saat diajak keluar halaman rumah.

  11. Tidak menyentuh atau memberi makan hewan yang ditemui di jalan

  12. Daerah yang sudah bebas rabies, haeus mencegah masuknya anjing, kucing atau hewan sejenisnya dari daerah yang tertular rabies.

  13. Pada area terkontaminasi dilakukan desinfeksi menggunakan 1:32 larutan (4 ounces per gallon) dari pemutih pakaian untuk menginaktifkan virus dengan cepat.

Prosedur pelaporan kasus Rabies pada instansi terkait :

  1. Masyarakat curiga terhadap hewan yang diduga Rabies, dapat melaporkan pada pimpinan unit kesehatan setempat atau petugas peternakan di kecamatan.

  2. Laporan yang telah diterima dari Kepala Desa/Camat diteruskan kepada Bupati/Walikotamadya Daerah TK II.

  3. Laporan dari pimpinan unit kesehatan setempat/petugas peternakan di kecamatan segera melaporkan kepada kepala Dinas Peternakan Kabupaten/Kotamadya Daerah TK. II

  4. Kepala Dinas Peternakan di Kabupaten/Kotamadya setelah menerima laporan, harus segera disampaikan kepada Bupati/Walikotamadya Daerah TK II.

  5. Dinas Peternakan yang telah melakukan pemeriksaan klinis dan menerima hasil pemeriksaan laboratorium, segera memberikan laporan kepada unit kesehatan yang melakukan perawatan penderita.

  6. Pimpinan Unit Kesehatan yang merawat penderita gigitan hewan yang diduga rabies, harus segera melaporkan kepada Dinas Peternakan.

  7. Selanjutnya instansi-instansi terkait yang dimaksud, selanjutnya memberikan laporan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Comments
  1. Oiya kmrn ada kabar jebolnya rabies di jawa barat. Actually jawa dah kena rabies tp pemerintah g berani mendeclaire klo jawa juga g bebas rabies, g tau knp, alesan politis or yg laennya.
    Sebenarnya kasian juga klo orang kalimantan yang mau ke jawa g bs bw anjingnya terbentur dengan peraturan pemerintah yg melarang pemasukan Hewan Pembawa Rabies dr Kalimantan yang notabene belum bebas rabies ke pulau jawa, pdhl jawa sendiri sbnrnya dah jebol.
    Palangkaraya memang tertinggi kasus rabies, tapi seperti qt ketahui pemerintah seperti tu2p mata. Tp begitu BALI yg kena rabies,
    wuahhhhhh…….semua dengan sigap menanggulanginya. Dana besar segera
    dikucurkan untuk membasmi rabies di Bali demi alasan politis dan ekonomis.
    Seperti qt tahu, Bali penuh dengan wisatawan mancanegara yg bener2
    menyumbangkan devisa yg besar bwt negara, klo sampai kasus Rabies dsana dibiarkan begitu saja, banyak sektor yg kena imbasnya. Apalagi klo mpe negara2 laen mengeluarkan travel warning. Wuahhhh, negara dah kekurangan pemasukan berapa duit tu…… Coba bandingkan dengan KALTENG yg kasusnya lebih tinggi, tapi mungkin bagi pemerintah KALTENG tidak mempunyai kontribusi yg berarti bg negara, jadi ya dibiarin gt aj….
    Ck ck ck ck betapa ironisnya….
    Ketidak tegasan pemerintah untuk mendeclaire bahwasanya kawasan/negaranya dijangkiti penyakit hewan tertentu mlh menuai akibat yg buruk, ambil contoh kaya kasus impor daging sapi dr Brazil yg notabene belum bebas PMK, klo menurutq secara hukum qt g bs melarang karena negara qt sendiri tdk memiliki Record yg lengkap di OIE, bandingkan dengan Brazil yg memiliki Record yg lengkap mengenai zona2 persebaran penyakit PMK. Apakah qt bisa menjamin klo di negara qt tidak terjangkit PMK, klo pendataannya tidak dilakukan dengan baik dan tidak dilaporkan ke OIE???

  2. Denny Lukman says:

    Maaf saya ikut memberi komentar,

    Bagus sekali mengulas Rabies di sini. Penyakit ini nampaknya menjadi kurang “terperhatikan” oleh teman sejawat di Dinas yang membawahi fungsi kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner (mereka masih disibukkan oleh avian influenza). Mungkin juga ini karena “sangat lemahnya” sistem kesehatan hewan nasional kita (lagi-lagi komentar ini dari saya, maaf).

    Saya sangat prihatin sekali dengan merebaknya kasus rabies di Bali, yang secara historis bebas rabies. NTB secara historis bebas rabies, yang terletak di antara Bali dan NTT yang sudah terinfeksi. Ini tantangan untuk kita, profesi dokter hewan.

    Dalam rangka pengendalian rabies ini, saya sependapat dengan komentar bu Dr Tata Naipospos, kita harus juga mengkaji Dog Ecology. Pakar epidemiologi veteriner dan rabies ada di FKH UGM. Semoga teman sejawat dapat memberi terobosan (yang revolusioner dan ilmiah menurut Dr Ngurah Mahardhika FKH UNUD) dalam mengantisipasi dan mengendalikan rabies dan zoonosis lain.

    Teman sejawat, saat ini sedang “digodog” suatu pemikiran berbasis “One World One Health” dalam mengantisipasi zoonosis di Indonesia, yang memadukan profesi dokter dan dokter hewan. Namun menurut hemat saya, sebaiknya Dokter Hewan berkiprah di depan (to be in front line).
    Hal ini terkait prinsip utama pencegahan dan pengendalian zoonosis dilakukan paling efektif dan efisien pada hewan (control at source). Kutipan di bawah ini menyatakan bahwa kita sangat kompeten untuk pengendalian zoonosis:

    Veterinarians, with their extensive scientific and medical knowledge, are well qualified to address many of the diverse health problems that today’s fast growing populations face. Of the 1,415 known pathogens of humans, 61.6% have an animal origin.

    Ada laporan lagi, ada kasus gigitan di Bengkalis dan positif rabies.

    Terima kasih, maaf jika tidak berkenan.

    salam
    denny lukman
    kesmavet fkh ipb

  3. Kunta Adnan Sahiman says:

    Sebelum kasus rabies dbengkalis yg muncul ini ada jg kasus sebelumnya yg tdk dpublikasikan.kbtln saat itu sy bertugas dKota tetangga kab.bengkalis.kasus tsb menewaskan seorang warga bengkalis yg berasal dr NTT yg tugas kesehariannya adalah pawang anjing.

    Dkota dumai jg ada kasus,1 tahun sy dsana yg terlaporkan ada 2 kasus,tp entahlah apakah dlaporkan kpusat ato tdk.

    Nampaknya qt perlu membut peraturan perundang2n yg jelas masalah rabies ini dan melaksanakan gerakan bersama penanggulangannya.

    Terima kasih

  4. squallus says:

    oh kucingku sayang, kenapa engkau sekarang lagi ngetop gara2 membawa virus rabies? wah kayaknya penanganan rabies belum optimal seperti yang digemborkan nih. polisi lalu lintas hewan belum optimal. kurang tenaga lapangan… kesempatan nih buat berkarir hehe =]

  5. isma says:

    sebenarnya….gmn sih….kerjanya virus rabie kok bisa nyerang saraf????????? bisa kasih tau ngk????????
    lau ada kirim ke email ku yah…..maksaih
    cmart_magicmuggle@yahoo.com

  6. vet02ugm says:

    sebenarnya tidak hanya ke syaraf, tapi ada yang otot, saliva, tapi yang paling parah dan nampak jelas adalah pada sistem syaraf

    berikut adalah patogenesisnya :

    virus *rabies* masuk ke dalam tubuh manusia, selama 2 minggu virus menetap pada tempat masuk *dan* di jaringan otot di dekatnya virus berkembang biak atau langsung mencapai ujung-ujung serabut saraf perifer tanpa menunjukkan perubahan-perubahan fungsinya. Selubung virus menjadi satu dengan membran plasma *dan* protein ribonukleus *dan* memasuki sitoplasma. Beberapa tempat pengikatan adalah reseptor asetil-kolin post-sinaptik pada *neuromuscular junction * di susunan saraf pusat (SPP). Dari saraf perifer virus menyebar secara sentripetal melalui endoneurium sel-sel Schwan *dan* melalui aliran aksoplasma mencapai ganglion dorsalis dalam waktu 60-72 jam *dan* berkembang biak. Selanjutnya virus akan menyebar dengan kecepatan 3 mm/jam ke susunan
    saraf pusat (medulla spinalis *dan* otak) melalui cairan serebrospinal. Di
    otak virus menyebar secara luas *dan* memperbanyak diri dalam semua bagian neuron, kemudian bergerak ke perifer dalam serabut saraf eferen *dan* pada saraf volunter maupun saraf otonom. Penyebaran selanjutnya dari SSP ke saraf perifer termasuk serabut saraf otonom, otot skeletal, otot jantung, kelenjar adrenal (medulla), medulla, ginjal, mata, pankreas. Pada tahap berikutnya virus akan terdapat pada kelenjar ludah, kelenjar lakrimalis, sistem respirasi. Virus juga tersebar pada air susu *dan* urin. Pada manusia hanya dijumpai kelainan pada midbrain *dan* medulla spinalis pada *rabies* tipe furious (buas) *dan* pada medulla spinalis pada tipe paralitik. Perubahan patologi berupa degenerasi sel ganglion, infiltrasi sel mononuclear *dan*perivaskuler, neuronofagia, *dan* pembentukan nodul pada glia pada otak *dan* medula spinalis ¹.

    jadi semacam, kenapa virus influenza menyerang saluran pernafasan??
    ya karena reseptornya disana, maka predileksinya disana

  7. mac ipod rip says:

    Yes, really. And I have faced it. We can communicate on this theme.

  8. moore says:

    saya mau tanya,,kenapa hewan yg mengidap rabies mati setelah menggigit???terima kasih…

    • vet02ugm says:

      mayoritas hewan yang positif mengidap rabies memang mati, baik dia menggigit ataupun tidak. gejala syarafi tampaknya menjadi penyebab utama kematian hewan, dimana hewan mengalami kejang di seluruh tubuh, diikuti dengan kelumpuhan sebelum hewan lemah dan kemudian mati.

  9. moore says:

    maaf,,mau nanya lagi,,,biasanya klo hewan(khususnya kucing) yang terinfeksi rabies,,butuh waktu berapa lama sejak terinfeksi hingga akhirnya mati..?tanda2nya gmn??apakah anak kucing yang hyperaktif bs dibilang terkena rabies??saya punya anak kucing yg hyperaktif,,suka menggigit2 apa aja(tapi menggigitnya bukan menyerang sih,,mgkn sekedar main2),,lari kesana-kesini,,tapi tidak mengeluarkan air liur seperti ciri2 diatas,,nafsu makan jg biasa(malah makan terus)..
    oiya,,beberapa bulan yg lalu saya jg punya anak kucing,,14 hari setelah menggigit,,dy mati,,sblum mati smpet seperti buta gitu,,jalannya nabrak2,,nggak lama kemudian,,lemas,,trs sebelum mati sempat kejang2 sebentar..tapi g ad ciri2 sperti air liur yg berlebihan,,dan pada saat menggigit jg sebenarnya krna dy kesakitan,,pada saat itu ibu sy sedang memotong kukunya,tanpa sengaja mengenai jarinya,,spontan dy langsung menggigit tgn ibu saya,,apakah kucing itu terkena rabies??
    satu lagi,,dulu pernah punya anak kucing,,baru berumur beberapa minggu,,kaki belakangnya seperti lumpuh lalu nggak lama mati,,apakah itu rabies jg??
    maaf kebanyakan nanya,,mohon pencerahannya,,terima kasih,,^_^

  10. Andrian Febi Antoro says:

    Saya mau tanya cara pemusnahan untuk hewan yang positif terjangkit rabies bagaimana ya?apakah dengan cara dibakar atau dikubur?dan jarak pemusnahannya radius brp meter?. Satu lgi gan, apakah ditahun 2016 ini obat untuk penyakit rabies pada hewan sudah ditemukan ? Terimakasih

    • vet02ugm says:

      Andrian Febi Antoro,
      Sampai saat ini belum ditemukan obat untuk virus Lyssa penyebab rabies.
      Serum dan vaksin digunakan untuk meningkatkan kekebalan tubuh.
      Hewan positif rabies di euthanasia kemudian dimusnahkan menggunakan insenerator, ruang bakar bersuhu tinggi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s