Merintis di Era Krisis, Keberanian Berbisnis Kemitraan di Dunia Perunggasan

Posted: February 20, 2009 by vet02ugm in Article

Agung Wahyono

(aveterinary@yahoo.com)

Krisis Global nampaknya tidak mempengaruhi seseorang untuk merintis usaha/ bisnis. Sedikit sekali seorang mahasiswa yang memberanikan diri untuk bekerja menjadi tenaga freelance (paruh waktu) ataupun bekerja fulltime di suatu instansi apalagi memulai berbisnis. Hal ini sangat jarang sekali kita jumpai karena banyak yang takut akan berdampak mundurnya masa studinya dan menjadikan nilai akademinya merosot. Namun berbeda dengan mahasiswa yang satu ini dia tampaknya beorientasi lain. Awalnya karena faktor keluarga yang pas-pasan dia harus memutar otak untuk bekerja supaya bisa membiayai kuliah dan dapat hidup di Jogja. Setelah berusaha dengan keras dan dengan memanfaatkan relasi akhirnya dia saat ini sudah bisa berkerja di Instansi Perguruan Tinggi tempat dia menuntut ilmu dan sekarang udah berjalan hampir 3 tahun.
Disamping menimba ilmu dan bekerja nampaknya lelaki berusia 24 tahun asal Sragen ini tidak pernah berhenti beraktifitas dia juga membantu menjalankan administrasi Asosiasi Peternak Ayam Yogyakarta (APAYO), dan Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia (ADHPI) Setelah belajar kurang lebih tiga tahun di dunia perunggasan dan bergaul dengan orang-orang yang mempunyai bisnis di bidang ini kini dia memberanikan diri untuk memulai merintis kemitraan ayam broiler (pedaging) di daerah Sragen dan sekarang semakin mantap memutuskan fokus menjalankan kemitraan broiler. Kemitraan Broiler yang dirikannya di beri nama “Setia Budi”. Belum genap setahun dia mengembangkan kemitraan broiler, manis pahitnya bisnis tersebut sedikit demi sedikit mulai dia rasakan. Populasi ayam broiler kemitraanya saat ini mencapai 15.000 ekor/ periode dengan jumlah peternak 10 orang.

Sejarah Kemitraan ‘Setia Budi”
Pria ini mengaku mengenal dekat ayam semenjak kuliah karena kebanyakan relasi atau punya kenalan dari seorang TS (Technical Service) dan Peternak Inti di Yogyakarta. Di masa-masa awal perkenalannya dengan ayam, Dia langsung kepincut untuk melakukan usaha budidaya broiler. Salah satu alasannya karena perputaran uang di bisnis ini tergolong cepat, hanya sekitar 25-40 hari. Bahkan kalau sedang mujur mendapatkan harga jual tinggi, laba besar dipastikan akan tergenggam. Memulai terjun di bisnis perunggasan di awal tahun 2008, dia menemukan fakta bahwa bisnis unggas ternyata menggiurkan dan sangat menarik. Populasi awalnya 2000 ekor, dan berkembang hingga 15 ribu ekor/periode. Usaha ternak broiler memang menyimpan risiko yang besar dan itu dirasakan betul oleh dia kerugian dari broiler-nya yang pernah 30 juta namun bisa ditutup kembali oleh keuntungannya.
Waktu pembentukan kemitraanSetia Budi adalah di Yogyakarta dimulai dari tanggal 9 Mei 2008. Kesepakatan ini terdiri dari Tiga pihak. Pihak I, dan III sepakat untuk menyediakan DOC dan Obat serta membuat laporan admin sedangkan Pihak II menyediakan pakan dan bertanggungjawab terhadap penjualan serta penagihan. Sekretariat kemitraan ayam broiler milik Setia Budi, terletak di Dusun Karang, Desa Mojokerto, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Unit Kemitraan Kabupaten Sragen membawahi beberapa peternakan yang berada di Kabupaten Sragen daerah (Kedawung, Pengkok, Karang Malang, Gondang), dan Kabupaten Karanganyar yaitu daerah (Mojogedang).

Evaluasi terhadap Kemitraan
Untuk mendapatkan bentuk kemitraan yang memadai telah dilakukan pengembangan alternatif model kemitraan dengan memasukkan aspek profitabilitas, prospek kemandirian usaha, kodeterminasi hubungan kemitraan serta kesinambungan usaha. Untuk implementasinya, melalui 4 (empat) tahapan yaitu: tahapan 1. Perubahan sistem penggunaan FCR untuk penentuan harga; tahapan 2. Perubahan sistem profit sharing; tahapan 3. Peralihan dalam penanganan pasca panen dan pemasaran dari Inti kepada peternak dan tahapan 4. Perubahan sistem rantai nilai agribisbisnis yang dilaksanakan peternak.Keberhasilan dan aplikasi model ini, Perlu dukungan intsrumen kebijakan dan penegakannya yang lebih berpihak kepada peternak, serta keikhlasan pihak yang kuat untuk memberikan kesempatan akses yang lebih besar dalam sektor pasca panen dan pemasaran kepada peternak mitra.
Kemitraan “Setia Budi” memberanikan diri untuk menawarkan solusi terhadap beberapa keluhan yang sering muncul sehubungan dengan pelaksanaan kemitraan diantaranya : 1) sudahkah hubungan kemitraan memenuhi azas saling menguntungkan? 2) peternak mitra hanya menjadi ‘sapi perahan’ pemilik modal, 3) peternak mitra adalah penanggung risiko terbesar (menanggung risiko kenaikan harga input, terutama bibit dan pakan) dan 4) pada saat harga output baik, keuntungan masih tetap lebih besar dinikmati pemilik modal. Pertanyaan dan keluhan tersebut sering muncul, namun yang perlu dicatat adalah munculnya pertanyaan dan keluhan tersebut adalah pada saat-saat tertentu yang memang sedang merugikan peternak mitra; sebaliknya tidak muncul pada saat-saat yang menguntungkan. Hitungan-hitungan untung rugi memang harus dilakukan tidak hanya sesaat, melainkan dalam jangka panjang, karena harga-harga input dan output memang selalu berfluktuasi. “Setia Budi” memberikan solusi dengan memberikan produk sapronak yang berkualitas dan kontrak harga yang menguntungkan kedua belah pihak.
Berdasarkan Evaluasi Tahun 2008 Performance Pemeliharaan Broiler di kemitraan “Setia Budi” Sragen diperoleh hasil yang cukup baik. Dengan mengggunakan pakan BR1 dan Duta PT. Japfa Comfeed dan DOC Platinum PT. Multibreeder diperoleh perhitungan IP (Indeks Prestasi) antara 245-335, FCR. 1.57-1.73,Berat Panen 1.40-2.21 kg, Umur 34-40 hr, Mortalitas 1.5-7.5%, keuntungan peternak Rp. 900-3000/ekor, dari 25 kali waktu check in hari 4 periode yang rugi dan 21 periode untung itu artinya 84% peternak untung dan hanya 16% tingkat kerugiannya , Selanjutnya dalam perhitungan keuntungan dalam rupiah dan profitabilitas diukur dengan profit margin dan return on investment. Adapun variabel yang berpengaruh terhadap keuntungan adalah skala usaha, total biaya, harga jual dan umur panen.Kemudian rata-rata profit margin peternak plasma sebesar 15%. Adapun variabel yang berpengaruh terhadap profit margin adalah skala usaha, total biaya dan harga jual, demikian pula return on investment peternak plasma sebesar 28%.

Comments
  1. amandaRasul says:

    ahirnya …nongol juga jagoanya 2002..hehehe

  2. agung says:

    iya nda…. ikutan ngrumpi temen2. biar ga ketinggalan info.. he2…

  3. Squallus says:

    mas agung, aku fansmu nih. kirim2 relasi juga ya hehe…

  4. agung says:

    squallus sapa ya….. he2… kok pake ngefans emg artis..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s