Manfaat Sagu Sebagai Pakan Alternatif Ayam Buras

Posted: January 12, 2011 by vet02ugm in Article
Tags: , , , ,

Drh.Kunta Adnan Sahiman

Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Ambon, Jln.A.Y.Patty No.1

telp.(0911)3366677/085292149007

Sagu berpotensi menjadi  sumber energi dalam ransum ayam, menggantikan sebagian jagung atau biji-bijian. Hal ini bisa dilakukan dengan melakukan proses fermentasi terlebih dahulu ataupun dengan pemberian secara langsung.

Untuk dapat meningkatkan produksi ayam buras, pemberian pakan merupakan hal yang sangat penting dan harus diperhatikan baik segi kualitas maupun kuantitasnya sehingga dapat memberikan hasil yang optimal. Selama ini pada umumnya para peternak  menggunakan Jagung sebagai salah satu bahan makanan utama yang digunakan sebagai penyusun ransum unggas yang kaya karbohidrat. Tetapi penggunaan jagung sebagai pakan unggas, selain harganya cukup mahal penggunaannya bersaing dengan kebutuhan manusia. Apalagi untuk daerah kawasan timur indonesia seperti kepulauan maluku, harga jagung sangatlah mahal karena jagung harus didatangkan dari luar daerah. Untuk mengatasi hal tersebut perlu dicari alternatif pengganti jagung dalam ransum ternak unggas.

Kawasan timur indonesia (baca:Maluku) sejak dahulu dikenal sebagai daerah yang penduduknya mengkonsumsi sagu sebagai makan pokok masyarakatnya. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan zaman pola hidup inipun berubah, masyarakat lebih senang memakan beras (baca:nasi) sebagai makanan pokok. hal ini menyebabkan sagu menjadi bahan makanan yang termarginalkan dan tidak diperhatikan perkembangannya padahal jumlahnya sangat banyak dan tersebar di seluruh daerah di provinsi Maluku.

Menyikapi kedua fakta diatas maka para peneliti telah melakukan banyak penelitian untuk mengetahui kandungan nutrisi yang terdapat pada sagu sehingga dikehui layak/tidaknya sagu sebagai pakan ternak.  Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa tanaman sagu merupakan penghasil karbohidrat yang cukup potensial.

Ampas sagu tersedia sebagai sumber energi bagi ternak, akan tetapi yang menjadi faktor pembatas adalah kandungan protein kasarnya rendah dan serat kasar tinggi. Agar  menjadi bahan pakan ternak yang kaya akan protein dan vitamin, berdasar riset ini maka ampas sagu dapat diolah dengan teknologi fermentasi. Dengan proses fermentasi, kadar protein ampas sagu dapat meningkat sampai 14 %. Prosedur fermentasi ampas sagu sama dengan prosedur fermentasi pembuatan tape. Riset yang dilakukan di Wainetat, Maluku Tengah ini menggunakan 120 ekor ayam (40 jantan dan 80 betina) umur 3-4 bulan, dengan berat awal 750-950 gram, yang dikelompokkan secara acak. Bahan makanan yang digunakan adalah jagung kuning, dedak, menir, ampas sagu dan tepung ikan. Kelompok (RA) diberi ampas sagu non fermentasi 10%, kelompok (RB) diberi ampas sagu fermentasi 25% dan kelompok (RC) tanpa pemberian ampas sagu.

Hasil riset memperlihatkan, ketiga perlakuan tidak berbeda nyata dalam hal konsumsi dan konversi, hal ini disebabkan oleh bahan makanan yang digunakan dalam penelitian ini relatif sama, kecuali penambahan ampas sagu pada perlakuan RA dan RB.Namun perlakuan RA dan RB berbeda nyata terhadap perlakuan RC. Pertambahan berat badan pada perlakuan RA dan RB tidak berbeda nyata, diduga karena kedua ransum tersebut palatabilitasnya cenderung sama. Sedangkan untuk perlakuan RC dengan ransum tanpa ampas sagu, pertambahan berat badan cenderung lebih rendah.

Pemakaian tepung sagu dalam ransum ayam buras umur 12 minggu juga menghasilkan pertambahan berat badan yang cukup tinggi dibandingkan dengan pemberian ransum tanpa tepung sagu, hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Natamijaya (1988). Secara umum, riset ini membuktikan bahwa penambahan ampas sagu non fermentasi dan fermentasi sampai kadar 10% dan 25% dari total ransum, memberi respon yang cukup baik terhadap pertumbuhan ayam buras periode grower.

Bukan Cuma kandungan karbohidrat saja yang tinggi, sagupun berpotensi sebagai sumber protein yang tinggi setelah melaui proses pengolahan. Caranya yaitu dengan menjadikan sagu sebagai media pertumbuhan bagi ulat sagu.

Ulat sagu (Rhynchophorus ferruginenus)merupakan larva dari kumbang merah kelapayang sangat berpotensi dijadikan bahan subsitusi pakan ternak atau juga lauk bergizi yang bebas kolesterol. Kandungan protein ulat sagu sekitar 9,34%, sedangkan pakan berbahan utama ulat sagu sekitar 27,77%. Selain kandungan protein yang cukup tinggi, ulat sagu juga mengandung beberapa asam amino esensial, seperti asam aspartat (1,84%), asam glutamat (2,72%), tirosin (1,87%), lisin (1,97%), dan methionin (1,07%).

Nah, tertarik mempraktekan?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s