Penggunaan Bulu Muda sebagai Bahan Pemeriksaan dan Diagnosa Penyakit Avian Influenza pada Unggas

Posted: January 5, 2013 by vet02ugm in Article, You Ask "why"
Tags: , , , , , , ,

Pengujian dengan Rapid Tes adalah salah satu metode diagnosa untuk mendeteksi virus Avian Influenza Type A secara cepat dan cukup akurat. metode ini membutuhkan virus dalam jumlah 1/8 HA unit atau sebanyak ±1×10 pangkat 5. Sampel yang digunakan pun relatif mudah didapat, seperti swab (cloaca, trachea) atau bulu muda.

Penggunaan bulu muda sebagai bahan pemeriksaan dan diagnosa penyakit avian influenza sebenarnya telah diketahui sejak lama, hanya saja penggunaannya belum banyak digunakan. Tetapi belakangan, dengan maraknya avian influenza pada itik, diagnosa rapid test menggunakan bulu muda kembali digunakan karena diketahui lebih akurat dibandingkan dengan menggunakan swab cloaca atau trachea.

bulu muda yang tangkai bulunya masih lunak dan berwarna kemerahan serta daun bulunya belum berkembang sempurna

Cara kerja pengujian Rapid Test dengan menggunakan bulu muda adalah sebagai berikut:

  • Cabut 3 – 4 bulu muda yang tangkai bulunya masih lunak dan berwarna kemerahan serta daun bulunya belum berkembang sempurna.
  • Satu persatu celupkan tangkai bulu dalam pelarut uji Rapid Tes.
  • Sambil ditarik, pencet tangkai bulu muda sampai isinya terperas (tertinggal dalam pelarut).
  • Teteskan cairan pada kit uji Rapid Tes.
  • bulu muda yang tangkai bulunya masih lunak dan berwarna kemerahan serta daun bulunya belum berkembang sempurn

    Bulu muda yang tangkai bulunya masih lunak dan berwarna kemerahan serta daun bulunya belum berkembang sempurna

    Celup bulu

    Sambil dipencet

    Didapat cairan

    Meneteskan cairan pada kit uji Rapid Test

    Hasil uji

    Keuntungan penggunaan bulu muda untuk uji Rapid Test yaitu:

    1. Bulu muda mudah didapat dan mudah mengambilnya karena hanya dengan mencabut bulu dari tubuh ayam yang diduga menderita penyakit AI.
    2. Tidak banyak memanipulasi ayam yang sakit/mati karena AI (seperti membuka mulut ayam, nekropsi, dsb.).
    3. Tidak perlu menggunakan swab steril maupun transport media.
    4. Di dalam bulu masih terdapat komposisi darah dan jaringan tubuh ayam sehingga dimungkinkan untuk tidak perlu menambahkan bahan pengawet (media transport virus).
    5. Pada pengambilan sampel bulu muda tidak banyak terjadi kontaminasi benda asing seperti halnya pada pengambilan sampel dari swab trakhea atau swab kloaka.
    6. Dapat diperoleh suspensi bahan pemeriksaan dalam jumlah yang cukup banyak.
    7. Pengambilan sampel bulu dapat dilakukan dengan mudah pada ayam hidup maupun mati.
    8. Proses otolisis pada bulu berjalan lebih lambat.
    9. Dengan penggunaan bulu (tanpa transport media virus) tentunya harganya akan menjadi sangat murah (ekonomis).
    10. Kelemahannya pada ayam yang tua kadang kala sudah sulit/tidak ditemukan bulu muda.

    #diambil dari presentasi drh. Walujo Budi Prijono (Balai Besar Veteriner Wates Yogyakarta)

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s