Archive for the ‘Our Case’ Category

drh. Tryono

Anamnesa

Pedet usia 5 hari dilaporkan tidak bisa berdiri dengan sempurna dan diduga mengalami patah tulang. Berdasar keterangan pemilik pedet tersebut mengalami susah lahir dan dibantu dengan di tarik menggunakan tambang, setelah pedet bisa keluar pada kedua kaki depannya terdapat luka bekas tambang. Sampai hari kelima setelah lahir, luka pada kaki depan sebelah kanan belum sembuh dan pedet tidak mampu berdiri.

Pemeriksaan fisik

Pedet terlihat agresif, tetapi tidak mampu berdiri, setelah dibantu diangkat bisa berdiri tetapi kaki depan kanan di angkat.  Pada kaki depan kanan terdapat luka yang cukup besar dan sudah mulai mengalami pembusukan, ketika dilakukan penekanan pada daerah sekitar luka, keluar nanah berbau busuk dan pedet mengalami kesakitan. Dari bagian dalam luka tersebut terlihat jelas adanya tulang metacarpal yang patah.

Diagnose:

Fractura os metacarpal

Penanganan

Kemungkinan penanganan yang bisa dilakukan adalah:

  • penyambungan kembali (mis: pinning)
  • amputasi
  • afkir (disembelih; euthanasia)

Berdasarkan pertimbangan luka yang sudah busuk  dan kondisi pedet yang masih kuat maka diputuskan untuk melakukan amputasi.

Tehnik operasi

# Persiapan alat dan bahan

Meliputi : satu set alat operasi minor, gegaji besi, karet gelang, silet pencukur rambut, kapas, tampon, benang, kasa steril, perban (bandage), lidocain, antibiotic injeksi dan spray, desinfektan, kalium permanganate (PK), aquadest steril.

# Cara amputasi :

1.       Pedet di rebahkan lateral

2.       Rambut  pada daerah kaki di bagian atas luka patahan dicukur bersih

3.       Dilakukan desinfeksi menggunakan alcohol dan  larutan iodine.

4.       Karet gelang (tourniquet) dipasang pada  bagian atas dari tempat yang akan dilakukan incise.

5.       Dilakukan anastesi local, linear melingkari kaki pedet yang akan dipotong.

6.       Potongan ujung distal tulang metacarpal yang patah di buang

7.       Dilakukan incise melingkar pada daerah yang di anastesi

8.  Dilakukan pemotongan tulang metacarpal kira-kira 10 cm diatas luka bekas patahan awal

9.       Penghentian pendarahan

10.   Muskulus dan Kulit dijahit

11.   Penutupan luka dengan perban

Perawatan post operasi di lakukan injeksi  antibiotic selama 5 hari berturut-turut dan dilakukan penggantian  perban setiap 3 hari sekali. Sekitar seminggu post operasi pedet sudah bisa berdiri dengan tiga kaki.

Notes :

Ini adalah pengalaman pertama kami mendapatkan kasus seperti ini. Saya bersama salah satu rekan dokter hewan (drh. Tulus) mencoba menerapkan metode yang kami anggap paling mudah dan paling tepat untuk dilakukan sesuai yang kita tau.

Amputasi  yang kita lakukan dipilih pada bagian corpus metacarpal karena dengan pertimbangan apabila dilakukan amputasi pada daerah peesendian akan lebih rumit karena banyaknya tendon yang menempel pada ujung tulang di daerah persendian.

Anastesi yang dilakukan menggunakan anastesi local linear block karena kurangnya pengalaman dan pengetahuan anastesi regional daerah kaki.

Kulit pada daerah incise didorong ke atas terlebih dahulu sebelum dilakukan pemotongan karena diharapkan setelah pemotongan tulang diperoleh bentukan kulit yang lebih panjang daripada tulang sehingga bisa digunakan untuk menutup luka di ujung distal kaki.

Setelah tulang dipotong  didapatkan kulit lebih panjang dari tulang. Kemudian pada ujung kulit tersebut dipotong dengan pola seperti huruf “V” pada dua sisi yang berlawanan baru kulit dijahit.

Drh. Yus Anggoro Saputra

Gelanggang Samudra, PT. Taman Impian Jaya Ancol,

Jakarta, Indonesia

Signalmen

  • Nama Hewan    : Owen
  • Spesies                : Delphinapterus Leucas
  • Jenis Kelamin  : Betina
  • Panjang               : 342 cm
  • Berat Badan      : + 400 kg

Anamnesa

Beluga Owen berada di GSA sejak 17 Desember 2006, dalam 1 kolam terdiri dari 4 holding dimana satu holding berisi, 2 ekor beluga, dan tiga holding lainnya masing-masing berisi dua ekor lumba-lumba. Beluga Owen setiap hari melakukan show 3 kali, dan dalam satu hari makan + 20 kg ikan segar. Air kolam berasal dari perairan Jakarta yang telah dilakukan filtrasi, suhu air 24-26oC, kadar total chlorine 0,4-1,0 ppm

23/1/2010, Beluga Owen mngalami penurunan nafsu makan, makan tidak stabil, gerakan pasif, buoyancy cenderung berada di dasar kolam, tidak mau mendekat, dan tidak merespon ikan dan trik dari pelatih. Frekuensi pernafasan cenderung meningkat dari biasanya dan dari blowhole terlihat keluar busa.

Gejala Klinis/ Patologis

Dari pemeriksaan hematology terlihat bahwa Beluga mengalami Anemia microcytic normochromic, Leukocytosis (12.600/mm3) dan neutrophilia (9.954 mm3) dengan Left Shift (126/mm3), penurunan serum iron, kenaikan ringan bilirubin (0.41 mg%), ALT dan AST. Glucosa mengalami penurunan (58 mg%.) dan terjadi kenaikan ringan BUN (69 mg%) sedangkan parameter lainnya normal.

Dilakukan kultur bakteri dan jamur dari sampel yang diambil dari blowhole beluga. Kultur jamur yang ditanam di media Saboroud Dextrose Agar (SDA) tidak tumbuh. Sedangkan dari kultur bakteri tumbuh bakteri V. alginolyticus

Pengobatan

Untuk mengatasi dehidrasi dan kekurangan nutrisi, beluga di beri makan secara paksa (forcefeed) dengan ikan layang, ikan layang ini diberi tambahan cairan dengan cara disuntikan air mineral ke dalamnya. Forcefeed dilakukan satu kali perhari dengan berat ikan yang diberikan + 3 kg (1% dari BB). Perlakuan force feed dilakukan selama 2 hari. Pemberian Antibiotik berupa injeksi Enrofloxacin (Baytril) 15 cc s.i.d, selama 3 hari dan dilanjutkan dengan Cefadroxil (Cefat) 2500 mg b.i.d selama 14 hari. Untuk supporting kondisi tubuh diberikan injeksi Biosollamin 10 cc s.i.d. Untuk mengembalikan dari organ-organ pencernaan diberikan injeksi Metoclopramide HCL (primperan) 30mg/6cc i.m yang kemudian dilanjutkan dengan pemberian oral Metoclopramide HCL (primperan) 50 mg b.i.d. anti histamine yang diberikan berupa Homochlorcyclizine HCl (homoclomin) 50 mg b.i.d

Respon dari pengobatan mulai terlihat pada hari ke tiga, dimana beluga sudah mulai makan walaupun masih belum stabil dan belum mau merespon perintah trik. Pengambilan darah dilakukan tiap satu minggu setelahnya dan terlihat bahwa penurunan jumlah Leukocyt kearah normal, Dehidrasi masih terjadi karena porsi makan yang berkurang dan tidak stabil. Nafsu makan mulai bertambah, dan sedikit-demi sedikit Beluga sudah mau menerima perintah trik.

Diskusi

Leukocytosis (12.600/mm3) dan neutrophilia (9.954 mm3) dengan Left Shift (126/mm3), merupakan respon imun terhadap infeksi bakteri. Neutrophilia dengan adanya neutrophil band biasanya mengindikasikan prognosis yang baik pada lumba-lumba dan killer whale. (Dierauf dan Gulland, 2001)

Vibrio algnolitycus, adalah bakteri gram negative marine bacterium yang sering ditemukan menyebabkan kematian dan sakit pada lumba-lumba (Buck et al, 1991; Medway dan Tangeredi, 1980). Vibrio algnolitycus beberapa kali ditemukan pada hasil isolasi dari Blowhole, anus, oral cavity, dan pericardium lumba-lumba yang terdampar (Buck et al, 1991). Dari hasil darah dan hasil swab blowhole yang diambil dapat diasosiasikan bahwa beluga mengalami infeksi Vibrio algnolitycus, walaupun belum dapat dibuktikan bahwa Vibrio algnolitycus dapat menyebabkan infeksi pada Beluga.

Referensi :

  • Buck J.D., Overstrom N. A., Patton G. W., Anderson H. F., Gorzelany J. F., 1991, Bacteria Associated with Stranded Cetaceans From the Northeast USA and Southwest Florida Gulf Coasts. Diseases of Aquatic Organisms Vol. 10
  • Dierauf L. A. dan Gulland F. M. D., 2001, CRC Handbook of Marine Mammal Medicine Second Edition. CRC Press LLC.
  • Tangredi B.P. dan Medway W., 1980, Post Mortem Isolation of Vibrio alginolyticus From an Atlantic white Sided Dolphin (Lagenorynchus acutus). Journal of Wildlife Diseases Vol. 16.

Hydronephrosis pada Kucing

Posted: September 6, 2010 by vet02ugm in Our Case
Tags: , ,

drh Amanda Rasul

Smile Pets, Jl. Aria Putra No. 23A, Ciputat, Tangerang Selatan

Tlp: 021 44380007 /House Call: 0856 911 39 007

Tommy, kucing dsh (domestic short hair), male, 1 tahun.

Pemilik membawa tommy dikarenakan diare dan tidak mau makan. Berat badan 3.65 kg. Di temukan ulcer pada lidah dan gingivitis. Abdominal tense. Diberikan baytril, spasmogenic dan dexamethasone.

Satu minggu kemudian, pemilik membawa tommy ke klinik pagi hari. Tommy beberapa kali muntah, tidak mau makan, diare, dan kurang aktif. Telah disarankan untuk di lakukan pemeriksaan darah dan radiography, tetapi pemilik belum mau. Diberikan trimetrophin-sulfa dan cimetidin. Siang hari, pemilik kembali membawa ke klinik. Dilakukan rontgen dan pemeriksaan darah.

WBC: 23.7 x 109 /L.

Creatinine: >10 mg/dl

Urea: >300 mg/dl

GPT: 129 µ/l.

Dari radiography, diduga adanya hernia inguinal.

(Catatan medis sebelumnya, tommy merupakan stray cat yg ditemukan pada umur sekitar 3 bulan, langsung di bawa ke klinik pada saat itu. Berat badan 650 gr. Kondisi aktif, ada hernia pada sebelah kiri lateral inguinal. Tidak dapat kencing secara normal, sehingga harus dilakukan palapasi pada bladder untuk membantu mengeluarkan urine selama satu minggu. Diberikan vaksinasi satu bulan kemudian. Dilakukan repair hernia surgery saat tommy berusia 7 bulan. Selanjutnya, menurut pemilik, tommy sangat active dan dapat makan, minum ,kencing serta defekasi secara normal).

Rawat inap (hari ke 1). Diberikan fluid therapy, ornipural (liver supplement), dan azodyl (kidney supplement).

Hari ke 2, tommy lebih aktif, tetapi tidak ada urinasi dan defekasi.

Hari ke 3, tommy muntah, tidak ada urine, tidak aktif. Bladder tidak dapat dipalpasi.

Dari USG, sulit untuk menemukan bladder. Nampak dilatasi pada bagian renal pelvis, yang merupakan ciri dari hydronephrosis (gambar 1). Dilakukan kateterisasi, namun tidak banyak urine yang keluar. Karena tidak terlihat bladder secara jelas, maka dilakukan contrast study (urograph) dengan menggunakan iohexol melalui kateter. Bladder nampak keluar dari tempatnya (gambar 2 dan 3).

Selanjutnya dilakukan nephrograph dengan metode low volume rapid injection. Nampak adanya sumbatan pada bagian ureter (gambar 4). Diduga, posisi bladder yang berputar dan keluar dari inguinal mengakibatkan ureter tersumbat.

Dilakukan kembali pemeriksaan darah

Creatinine: >10 mg/dl

Urea: >300 mg/dl

GPT: 67 µ/l.

Hari ke 4, tommy muntah, diare mucous berwarna kuning. Tidak ada urine, walaupun kateter tetap terpasang

Hari ke 5, tommy mati dengan keluar cairan berbau urine dari mulut dan hidung.

PROLAPS VAGINA CERVIX

Posted: August 24, 2010 by vet02ugm in Our Case

drh Imam Alriadi


Anamnesa :

Kejadian kasus, sabtu 31 juli 2010, pukul 7.30

Anak kandang menyebutkan bahwa hari sebelumya normal, tidak ada tanda-tanda mengejan. Pagi hari ditemukan sapi telah mengalami prolaps vagina cervix.

Pemeriksaan Fisik

Umur sapi ± 9 tahun, sapi mengejan terus menerus, lebih banyak dalam posisi duduk sambil mengejan

Kondisi tubuh kurus, ditunjukkan dengan terlalu menonjolnya tulang pelvis,

Puting susu membesar, ambing mengalami pembengkakan, pertanda sapi dalam keadaan bunting tua

Bagian pangkal vagina dan cervix cenderung lebih keras daripada kejadian prolaps yang lain. Terdapat lochea/leleran pada ujung cervix, cervix dalam proses pembukaan pertama.

Dilakukan palpasi per rectal, diketahui sapi dalam keadaan prepartus..

Diagnose : Prolaps Vagina Cervix Prepartus

Penanganan :

Pada kasus ini hanya ada tiga kemungkinan :

1.     Sectio caesaria

2.     Injeksi Hormon Pembantu Kelahiran

3.     Sapi di potong

Berdasarkan beberapa pertimbangan :

1. Kondisi sapi yang terlalu kurus, dan beresiko tinggi apabila dilakukan sectio caesaria

2. Tidak ada paramedis atau rekan kerja yang membantu proses sectio caesaria

3. Terbatasnya peralatan medis dan obat-obatan

4. Biaya section caesaria yang mahal

Maka sebagai dokter hewan saya memutuskan untuk melakukan Injeksi Hormon Pembantu kelahiran. Hormon yang disuntikkan adalah oxytocine sebanyak 50 IU.

Dengan saran : apabila selama tiga hari sapi tidak mengalami partus, sebaiknya sapi di potong

Senin, 2 Agustus 2010, pagi hari

Anak kandang melaporakan bahwa sapi telah melahirkan dengan kondisi pedet normal dan sehat (wah sayang banget pas momen ini nggak saya foto), akan tetapi induk tetap mengalami prolaps vagina cervix. Kejadian prolaps vagina cervix pada post partus harus segera ditangani, apabila tidak segera di tangani maka akan melanjut pada Prolaps uterus total yang semakin sulit untuk di tangani. (secara teori sih mudah, tapi secara praktek, tangan pegel-pegel kalo habis mendorong uterus yang prolaps).

Penanganan Prolaps

1.     Bagian vagina yang mengalami prolapsus di bersihkan dengan air yang telah dicampur Iodium Tincture sebelumnya

2.     Bagian vagina dan cervix kemudian di dorong dan di masukkan dengan cara menguakkan vulva, mendorong vagina bagian ventral terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan bagian dorsal. Kemudian ujung prolaps dimasukkan dengantangan seperti meninju kearah dalam.

Hal yang perlu diperhatikan adalah : hindari terjadinya bleeding, dan yang kedua, apabila prolaps sudah di masukkan pada posisi yang benar, secara otomtis sapi akan urinasi alias kencing, deres banget biasanya, sepatu bootku sampe basah semua, anget lagi kencingnya. Hal ini terjadi karena semasa prolaps, saluran urethra akan tertutup/tergencet dengan bagian vagina yang keluar. Itu pasti sakit itu,,, apabila sapi tidak kencing setelah prolaps kemasukan, ada indikasi posisi yang salah, sehingga perlu di reposisi ulang..

3.     Anestesi epidural

Anestesi epidural ini, jarum di suntikkan pada ruang intercoccygeal pertama

Dicontohkan dengan gambar saja ya, saya ambil dari buku anestesi veteriner jilid I, penulisnya drh. I Komang Wiarsa Surdjana dan drh. Diah kusumawati,  berikut gambarnya :

Apabila berhasil, maka bagian-bagian yang terblokir oleh anestesi epidural ini adalah bagian yang di arsir pada gambar berikut, apabila menggunakan procain 2% sebanyak 10 cc :

Apabila telah dilakukan anestesi, maka perlu kita cek terlebih dahulu, apakah anestesi yang kita lakukan sudah bekerja atau belum. Caranya adalah dengan melihat ekornya, apabila ekornya sudah lemas, dan tidak ada gerakan menyibak-nyibakkan ekor,maka obat sudah mulai berfungsi. Cara yang kedua adalah yang paling valid, kita ambil jarum steril kita suntikkan pada bagian yang akan kita jahit. Apabila sapi menendang-nendang atau masih bergerak, berarti efek obatnya belum sempurna, perlu di tunggu beberapa menit atau di tambah dosisnya.

Obat yang digunakan adalah Lidocaine 2 %. Berdasarkan pengalaman, 2 ampul atau 4 cc saja sudah cukup untuk kasus ini. Pemberian ini aman, berdasarkan yang saya baca di buku anestesi veteriner, anestesi ini pada sapi menggunakan procaine 2% dengan pemberian mencapai 17 cc atau 9 ampul.

4.     Menjahit vagina

Benang digunakan adalah tali sepatu, tentuya sudah di rendam dalam Iodium tincture supaya steril. Saya pernah bertanya kepada kolega saya, drh, Totok Romansyah, kalo di Ngawi mereka menggunakan pita.

Model jahitan yang saya lakukan adalah sederhana menerus, kalo saya tanya kolega saya, drh, Totok Romansyah, mereka menggunakan model menjahit lubang peluru, yang memutari vagina.

Berdasarkan yang saya baca di Ilmu Kebidanan pada Ternak sapi dan kerbau, jahitan lebih baik di buka kembali setelah 24 jam.

5.     Untuk menghindari infeksi, sebaiknya sapi di beri antibiotic, penangan suportif terapi yang lain seperti antihistamin dan ATP.

Hasil jahitannya seperti ini ni…

Alhamdulillah, sapinya sehat sampai hari ini… pedetnya juga.. Juga

Bladder Stone in dog

Posted: August 23, 2010 by vet02ugm in Our Case

drh Zita Okarina

@ZitaPetClinic, Jl. Raya Muchtar no 8, Sawangan – Depok

082134827999


Patient details : Vodka, a male 2.5 years old, Mini Schnauzer dog

History : Vodka was presented to our clinic on 25th of July 2010 with a primary complain of blood in the urine (hematuria). The dog was hospitalized in our clinic for intensive treatments.

Diagnostic workout : Radiography was done. A lateral view of abdomen cavity Complete blood check-up

Radiographs finding : White clear object appears inside the blader image of X-ray

Blood haematology reveals : White Blood Count is high, showing an infection

Treatment given : Intravenous fluid therapy was given Cystotomy surgery with gas anaesthesia was carried out on 26th of July 2010 due to removing the bladder stone

Antibiotics – Enrofloxacin, Antiinflammatory – Meloxicam

He was discharge after 7 days of hospitalization, and went back home happily.

Gastric Dilatation-Volvulus (bloat) pada Anjing

Posted: August 22, 2010 by vet02ugm in Our Case
Tags: ,

drh. amanda rasul

SMILE PETS, Jl. Aria Putra No. 23A, Ciputat. Tangerang Selatan

021 44380007

Local dog, jantan, 3 tahun. Datang ke klinik dengan kondisi lethargy, kesulitan bernafas dan lidah berwarna kebiruan. Menurut pemilik, kejadian terjadi secara tiba-tiba. Anjing dalam kondisi aktif dan memiliki nafsu makan yang baik sebelumnya. Bagian perut sangat membesar dan keras. Dilakukan pemeriksaan radiography. Terlihat adanya timbunan gas di dalam perut. Diberikan fluid therapy, charcoal, simethicone (disfatyl), dan antibiotic Seteleah diberikan pengobatan,kondisi secara perlahan membaik. Setelah 3 jam, anjing kembali aktif.

read more about GDV:  http://www.globalspan.net/bloat.htm

Transmissible Venereal Tumor (TVT) (bagian II)

Posted: November 9, 2009 by vet02ugm in Our Case

Drh. Amanda Rasul

SMILE PETS. Jl. Aria Putra No. 23A, Ciputat. Tangerang Selatan

021 44380007

Jing Ling, anjing local, 2.5 tahun, betina, 11.56 kg. Pada tanggal 12 oktober 2009 nampak adanya pertumbuhan pada bagian vulva (± 3 x 4 cm) dengan warha kemerahan, menyerupai cauliflower (kembang kol) (gambar 1&2). Baru melahirkan 2 minggu yang lalu.

Diberikan injeksi vincristine 0.29 ml intra vena (iv)dan clamoxy LA 1.2 ml intra muscular (im). Seminggu kemudian vulva area sangat bersih dan tidak ada lagi bentukan cauliflower (gambar 3). Bb: 12.53 kg, diberikan vincristine 0.31 ml iv. Pada tanggal 26 oktober kembali diberikan vincristine iv. Jing ling semakin aktif dan bagian vulva sangat bersih (gambar 4).

gambar 1gambar 2gambar 3

gambar 4

Penggunaan vincristin harus diberikan secara hati-hati. Kesalah pemberian vincristine dapat mengakibatkan efek samping yang dapat merusak sel serta jaringan.

side effect dari vincristineside effect dari vincristine

Pembahasan
Transmissible Venereal Tumor (TVT) merupakan infeksi sarkoma, veneral granuloma,transmissible limposarcoma,sticker tumor yang umumnya menginfeksi alat genital jantan maupun betina. Meskipun dilaporkan pula kasus TVT yang menginfeksi daerah cervik, punggung, flank, daerah abdomen, intranasal (Park et al., 2006; Marcos et al., 2006; Papazoglou et al., 2001). Paling banyak Kejadian TVT yakni berada dilingkungan tropis dengan temperature hangat (Rogers, 1997).
Tumor dapat tumbuh 15-60 hari setelah implantasi, dan dapat tidak terdeteksi selama bebrapa tahun (Lombard et al., 1968; Moulton, 1978).
Gejala TVT ialah adanya bentukan seperti cauliflower kemerahan. Biasanya pada daerah genital. Secara makroskopis, bentuknya beragam. Ada yang kecil maupun besar (5µm-10 cm), lunak maupun keras, abu-abu hingga kemerahan, bentukan nodular maupun papilary di penis ataupun lapisan permukaan preputium. Dapat terjadi juga pada glans penis, kadang pada bagian dalam penis bahkan scrotum dan daerah perineal. Pada anjing betina biasanya terpencil, dapat ditemukan pada seluruh bagian mukosa vagina, sering pula menyebar ke vestubula hingga labia. Ukurannya bervariasi dari nodular kecil hingga besar hinga menyebar ke lumen vulvovagina atau menjulur hingga diantara labia. Kedua kelamin sering terjadi perubahan yang regresif hingga mudah berdarah hingga keluar leleran serous, hemoragi ataupun leleran purulent dari preputium maupun vagina (Aiello et al., 2000) (Bloom et al., 1950).
Secara mikroskopis. Sel tumor besar, bulat, polyhedral, ataupun sedikit oval, jarang yang ireguler, beberapa uniform ukurannya. Nucleus besar, relative vesicular, jelas, umumnya satu inti. Tidak ada Sitoplasma bergranulasi (eosinofilik atau basofilik(giemsa)), dan dengan ciri tumor pada umumnya (Bloom et al., 1950).
Pengobatan TVT yang paling efektif ialah dengan kemoterapi. Beberapa penelitian menunjukan pengobatan dengan vincristin sangat baik hasilnya. Vincristine diberikan setiap minggu dengan dosis 0,5 – 0,7 mg/m2 dari area tubuh atau 0,025 mg/kg secara intra vena. Lama pengobatan juga bervariasi 2 – 7 kali (Marcos et al., 2006; Nak et al., 2005; Papazoglou et al, 2001). Vincristine merupakan kelompok vinca alkaloid yg merupakan obat kemoterapi. Vincristine ialah ekstrak dr tanaman vinca rosea yg merupakan racun microtubule (Brooks, 2008).

Daftara Pustaka
Aiello, S.E., et al. 2000. The Merck Veterinary Manual Eight ed. Merck&Co. inc whitehouse station N.J.USA.
Bloom, F., George, H., Nobace, C.R. 1950. The Transmissible Venereal Tumor of the Dog. Studies Indicating That the Tumor Cells are Mature end Cells of reticulo-endothelial origin. Departments of Pathology and Anatomy of the State University Medical Center at New York, Brooklyn, N.Y., and the Departments of Anatomy of the Hahnemann Medical CoUege and Hospital, Philadelphia, Pa., and of the College of Physicians and Surgeons, Columbia University, New York, N.Y.
Brooks, W.C. 2008. Vincristine (Oncovin, Vincasar). veterinarypartner.com
Lombard, C.H., Cabanie, P.1968. Le sarcome de Sticker. Rev Med Vet. 119(6):565-586.
Marcos. R., Santos. M., Marrinhas. C., dan Rocha E. 2006. Vet Clin Pathol. Cutaneous transmissible venereal tumor without genital involvement in a prepubertal female dog. Mar 35(1):106-9.
Moulton, J.E. 1978. Tumor of genital systems. In: Moulton JE, ed. Tumors in domestic animals. 2.ed. California: University of California; 326-330.
Nak, D., Nak, Y., Cangul, I.T., and Tuna, B. 2005. A Clinico-pathological Study on the Effect of Vincristine on Transmissible Venereal Tumour in Dogs. Journal of Veterinary Medicine Series A 52 (7) , 366–370 doi:10.1111/j.1439-0442.2005.00743.x
Papazoglou, L. G.,. Koutinas, A. F., Plevraki, A. G., Tontis, D. 2001. Journal of Veterinary Medicine. Primary Intranasal Transmissible Venereal Tumour in the Dog: A Retrospective Study of Six Spontaneous Cases. Series A 48 (7) , 391–400 doi:10.1046/j.1439-0442.
Park, M.S., Kim, Y., Kang, M.S., Oh, S.Y., Cho, D.Y., Shin, N.S., Kim, D.Y. 2006. Disseminated transmissible venereal tumor in a dog. J Vet Diagn Invest. 18:130–133.
Rogers KS. Transmissible venereal tumor. Compend Contin Educ.Pract Vet 1997; 19: 1036-1045

Ketosis (Acetonemia) pada Sapi Perah

Posted: April 10, 2009 by vet02ugm in Our Case

Ketosis merupakan salah satu penyakit yang sering terjadi di sapi perah. Ketosis terjadi akibat kekurangan glukosa di dalam darah dan tubuh. Peristiwa ini biasanya sering terjadi pada sapi yang bunting tua (masa kering) atau sapi-sapi habis melahirkan (Masa awal laktasi) dengan produksi susu yang tinggi.

Penyebab

Pada masa kebuntingan tua kebutuhan akan glukosa meningkat karena glukosa pada masa itu sangat dibutuhkan untuk perkembangan pedet dan persiapan kelahiran. Sedangkan pada masa awal laktasi glukosa dibutuhkan sekali untuk pembentukan Laktosa (gula susu) dan lemak, sehingga jika asupan karbohidrat dari pakan kurang maka secara fisiologis tubuh akan berusaha mencukupinya dengan cara glukoneogenesis yang biasanya dengan membongkar asamlemak dalam hati. Efek samping dari pembongkaran asam lemak di hati untuk di dapatkan hasil akhir glukosa akan meningkatkan juga hasil samping yang disebut benda2 keton (acetone, acetoacetate, β-hydroxybutyrate (BHB)) dalam darah.

Ketosis dapat bersifat primer, seperti pada sapi yang mempunyai produksi susu tinggi dengan pemberian karbohidrat dalam pakan yang kurang. Tetapi ketosis juga bisa bersifat skunder, yaitu akibat gangguan penyakit tertentu yang menyebabkan terjadinya gangguan metabolisme karbohidrat meskipun karbohidrat dalam pakan yang diberikan cukup. Kejadian ketosis yang bersifat skunder dapat terjadi akibat kasus Displasia Abomasum, Metritis, Peritonitis, Mastitis atau penyakit2 yang menyebabkan penurunan nafsu makan dalam waktu yang lama.

Gejala

Ada dua bentuk, yaitu adanya pembuangan benda2 keton dan gangguan syaraf. Pada awalnya biasanya hewan akan mengalami penurunan nafsu makan lebih dari 2 atau 5 hari, kemudian malas bergerak, kaki gemetar, jalan sempoyongan atau bahkan tidak kuat berdiri. Pengeluaran benda2 keton bisa dideteksi dengan adanya bau khas keton pada urine, susu atau dari nafas sapi yang menderita. Gejala gangguan syaraf kadang-kadang dapat terlihat, ditandai dengan sering menjilat, memakan benda2 asing disekitarnya dan kadang kala bisa mengalami kebutaan.

Diagnosis

Dengan melihat gejala klinis pada sapi2 yang menderita, pemeriksaan adanya pengeluaran benda2 keton pada susu, urine dan nafas serta pemeriksaan kadar keton pada urine, susu atau darah. Pemeriksan cepat benda2 keton untuk dilapangan biasanya menggunakan dipstick.

dscf3810

Terapi

Pada intinya terapi yang dilakukan adalah untuk mengembalikan kadar gula dalam darah ke level normal dan mengurangi kadar keton. Terapi yang dapat dilakukan adalah pemberian infus larutan Glukosa 50% sebanyak 500ml, Propylene Glycol 250-400 g/dosis, PO 2x sehari. Injeksi Glukokortikoid (Dexametason) 5-20 mg/dosis, IM. Ada juga yang menyarankan dengan terapi insulin 150-200 IU/hari, IM.

Diabetes Pada Kucing

Posted: February 20, 2009 by vet02ugm in Our Case

drh. Zita Okarina

@ZitaPetClinic, Jl. Raya Muchtar no 8, Sawangan – Depok

082134827999

 

Bubu, Kucing Domestic Short Hair, jantan berusisa 7 tahun datang pada tanggal 15 January 2009 dengan keluhan kesulitan untuk urinasi. urine bercampur darah berwarna merah.
bubu-copy
Xray menunjukan adanya sediment pada kandung kemih dan ginjal (bagian dasar bladder, nampak radio-opaque). USG (ultrasonoghraphy) menunjukan hyper-echoic, menandakan sediment pada kandung kemih (sedimen nampak mengambang). Urine test dengan reagent strip dihari pertama (15/1) didapat Protein : 300 (++) dan Glucose : 250 (+). Treatment: injeksi Clavulox dan Dexamethasone selama 6 hari, pakan dirubah menjadi c/d diet (science plan*), fluid therapy dan duphalyte (amino acid) selama 6 hari, diazepam dihari pertama. Dengan diazepam diaharap mampu merelaksasi spinchter dari urinary. hari kedua, urine berwarna kuning jernih.

Hari ketiga, dilakukan kateterisasi (dengan sedative Zoletil*) karena kandung kemih masih terasa besar. Penggunaan Zoletil sebagai anastesi disini karena sifatnya yang
ringan, dan termasuk short acting. Tentunya lebih ringan daripada
kombinasi ketamin-xylazine.

(more…)

Kehamilan dan Proses Kelahiran pada Lumba-Lumba

Posted: February 20, 2009 by vet02ugm in Our Case

Drh. Yus Anggoro Saputra


Gelanggang Samudra sebagai suatu lembaga konservasi ex-situ, sesuai
dengan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor :
P.53/Menhut-II/2006, lembaga ini berkewajiban untuk menjalankan fungsi
utama lembaga konservasi yaitu pengembangbiakan dan atau penyelamatan
satwa dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya.

01

Program breeding lumba-lumba di lembaga ini telah berjalan selama
lebih dari 30 tahun sejak lembaga ini didirikan. Hingga saat ini
lumba-lumba yang telah lahir sebagai hasil dari program breeding
sebanyak 32 ekor. Lumba-lumba ke 32 baru saja lahirpada pertengahan
februari dari pasangan lumba-lumba terpilih yang memang sengaja
digunakan dalam program breeding.

(more…)