Archive for the ‘Our Paper’ Category

buat yang bingung baca UU 41/2014 ttg perubahan UU 18/2009 nih kami jadikan satu di Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2009 Tentang Peternakan Dan Kesehatan Hewan Sebagaimana Telah Dirubah Dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2014

uu_18_2009__jo__uu_41_2014

Advertisements

Sindroma ini dapat terjadi dikarenakan adanya kelainan pada tulang rusuk yang menyebabkan perubahan anatomi pada rongga dada. Dinamakan Swimmer Puppy Syndrome lebih dikarenakan posisi anjing yang selalu dalam posisi telungkup dengan semua kaki mengarah ke lateral (menjauhi tubuh) dan kepala yang tidak dapat diangkat.

posisi telungkup

posisi telungkup

Penyebab sindroma ini masih diperdebatkan, ada beberapa ahli yang berpendapat bahwa sindroma ini lebih disebabkan karena kelainan genetik dan beberapa mengatakan tidak ada kaitannya dengan genetik pada hewan yang mengalami sindroma ini. Selain dari penyebab genetik, banyak pendapat yang mengatakan sindroma disebabkan nutrisi yang kurang, metabolisme yang tidak normal dan/atau kondisi kandang yang kurang baik (terlalu licin). Tidak ada jenis ras anjing yang secara spesifik mengalami sindroma ini akan tetapi beberapa pendapat mengatakan anakan dari ras anjing berbadan besar seperti rottweiler, pitbull, bulldog, labrador retriever dan golden retriever dilaporkan pernah mengalami sindroma ini. Namun tidak mengurangi kemungkinan ras anjing lain dapat mengalami sindroma ini.

Sindroma ini dapat dideteksi dengan melihat gejala klinis secara anatomi (bentuk tubuh) anakan anjing dan beberapa metode klinis lain seperti pemeriksaan sistem saraf, pemeriksaan darah dan kimia darah serta histologi jaringan otak untuk membedakan dengan penyakit lain dengan gejala klinis yang serupa.

Prognosa dan sindroma ini tergantung dari kondisi anakan anjing tapi dalam beberapa kasus jika semua kaki terindikasi mengalami sindroma ini maka prognosa akan sangat kecil. Banyak kasus anak anjing akan mati karena pneumonia karena ketidaknormalan anjing pada saat menelan.

Tindakan yang dapat dilakukan dalam kasus sindroma ini dapat dilakukan physiotherapi berkala seperti berenang, stimulasi pada bagian kaki dan leher dan tak ada pencegahan yang dapat dilakukan.

berenang

berenang

Oleh

Drh. Denni Kurnia

Drh. Zita Okarina

Gangguan pencernaan berupa muntah dan diare sering terjadi baik pada hewan muda maupun dewasa.

Gejala Klinis dapat berupa:
– Penurunan berat badan meskipun jumlah yang dimakan tidak berkurang
– Flatulensi, bunyi lambung, diare, muntah
– Bau mulut
– Penurunan nafsu makan, anoreksia

Diare
Hewan kesayangan anda menderita diare ketika proses pencernaan normalnya terganggu. Air dan nutrisi-nutrisi penting tidak dapat terserap dengan efisien oleh tubuh dari saluran pencernaan, menghasilkan diare. Hewan dengan kondisi diare parah beresiko mengalami dehidrasi karena banyaknya air yang keluar dari tubuhnya. Bahkan jika ada muntah, memperparah kehilangan cairan.
Penyebab diare bisa disebabkan oleh perubahan pakan hewan (beda merk dan produk), adanya infeksi bakteri atau virus, intoleransi makanan dan susu (laktosa), reaksi alergi, infestasi parasit internal seperti cacing, coccidian dan giardia, penyakit ginjal dan liver, kanker atau tumor di saluran pencernaan, dll.
Kucing
Muntah
Penyebab muntah yang paling sering terjadi pada hewan kesayangan anda yaitu menelan bulu atau benda asing seperti rumput yang dapat mengiritasi lambung. Terlalu banyak makan atau makan terlalu cepat juga dapat menyebabkan muntah namun bukan sesuatu yang serius. Tetapi bila muntah berkali-kali dan tidak berhubungan dengan kebiasaan makan, bisa disebabkan oleh penyakit infeksius dari bakteri dan virus, atau bisa karena ginjal, liver atau kelainan sistem syaraf. Pada hewan muda, muntah yang tiba-tiba diikuti dengan demam bisa dicurigai disebabkan oleh virus.
Hoeeek...

Jika hewan anda menunjukkan satu atau lebih dari gejala-gejala di atas:

  • Konsultasikan ke dokter hewan anda
  • Oleh karena gangguan pencernaan mengakibatkan tubuh hewan kesayangan anda kehilangan nutrisi-nutrisi penting, mereka membutuhkan penanganan yang cepat.
  • Perbaiki kehilangan nutrisi dengan makanan spesial yang disesuaikan untuk pemulihan dan mempertahankan kesehatan sistem pencernaannya
  • ANESTESI

    Posted: April 10, 2009 by vet02ugm in Article, Our Paper

    drh Zita Okarina

    @ZitaPetClinic, Jl. Raya Muchtar no 8, Sawangan – Depok

    (021) 68988880

     

    Anestesi (pembiusan; berasal dari bahasa Yunani an-“tidak, tanpa” dan aesthētos, “persepsi, kemampuan untuk merasa”), secara umum berarti suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Istilah anestesi digunakan pertama kali oleh Oliver Wendel Holmes Sr pada tahun 1846 (http://id.wikipedia.org/wiki/Anestesi)

    Beberapa anestesi yang penulis pernah gunakan antara lain:
    (more…)

    Drh. Amanda Rasul

    Smile Pets, JL. Aria Putra No 23 , Ciputat, Tangerang Selatan

    Telp: 021 4438 0007 /House Call: 0856 911 39 007

    INTISARI

    Populasi anjing yang tidak terkontrol menjadi suatu masalah yang harus dipecahakan. Isu kesejahteraan hewan pun menjadi layak diangkat untuk mecapai prinsip kesejahteraan hewan. Penyakit dari anjing yang bersifat zoonosis juga menjadi perhatian khusus untuk keselamatan manusia. Karena hal tersebut kontrol populasi menjadi penting untuk dilakukan. Beberapa metode untuk mencegah kebuntingan pada anjing telah banyak berkembang, diantaranya dengan Immunokontrasepsi dengan protein zona pellucida pada hewan betina, operasi untuk dilakukan sterilisasi pada hewan jantan maupun betina, vaksin antifertilitas dengan imun aktif terhadap luteinizing hormone-releasing hormone (LHRH) pada hewan jantan, penggunaan kontrasepsi kimia, dan penggunaan preparat hormonal. Semua metode tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan yang beragam. Pilihan metode terbaik tentu sangat bergantung dengan kebutuhan. Namun tentunya metode yang terbaik ialah yang memiliki efek samping paling sedikit, murah, mudah, dan lebih efektif.

    1

    PENDAHULUAN

    Banyaknya anjing maupun kucing jalanan di lingkungan sekitar pemukiman penduduk dan juga pusat-pusat kerumunan masyarakat seperti pasar telah memunculkan berbagai permasalahan bagi masyarakat sekitar maupun hewan itu sendiri. Banyaknya kasus-kasus penyakit zoonosis seperti toxoplasmosis, rabies dan penyakit-penyakit zoonosis lainnya yang ditularkan oleh hewan-hewan tersebut khususnya anjing dan kucing merupakan ancaman nyata bagi kesehatan dan jiwa manusia. Bahkan dari penelitian yang dilakukan oleh Tim peneliti Fakulas Kedokteran Hewan Universitas Udayana (Unud), dari 39 sampel kucing yang diteliti, seekor kucing ditemukan positif flu burung yakni di Kabupaten Jembrana. Sedangkan dari 108 sampel anjing di Kabupaten Buleleng, ditemukan tiga ekor anjing positif flu burung (walaupun belum dapat ditemukan berpotensi zoonosis) (Anonim, 2007). Potensi zoonosis dari anjing dan kucing liar ini menjadi lebih besar karena kebersihan dan pola makan dari hewan ini yang pasti sangat buruk. Selain itu kondisi hewan yang terlantar jelas jauh dari prinsip animal welfare yang terdiri dari lima asas kebebasan sebagai tolak ukur kesejahteraan hewan (UK- Farm Animal Welfare Council 1993), diantara Lima Asas Kebebasan (Five Freedoms) tersebut adalah:

    (more…)