Posts Tagged ‘kucing sakit ginjal’

Hydronephrosis pada Kucing

Posted: September 6, 2010 by vet02ugm in Our Case
Tags: , ,

drh Amanda Rasul

Smile Pets, Jl. Aria Putra No. 23A, Ciputat, Tangerang Selatan

Tlp: 021 44380007 /House Call: 0856 911 39 007

Tommy, kucing dsh (domestic short hair), male, 1 tahun.

Pemilik membawa tommy dikarenakan diare dan tidak mau makan. Berat badan 3.65 kg. Di temukan ulcer pada lidah dan gingivitis. Abdominal tense. Diberikan baytril, spasmogenic dan dexamethasone.

Satu minggu kemudian, pemilik membawa tommy ke klinik pagi hari. Tommy beberapa kali muntah, tidak mau makan, diare, dan kurang aktif. Telah disarankan untuk di lakukan pemeriksaan darah dan radiography, tetapi pemilik belum mau. Diberikan trimetrophin-sulfa dan cimetidin. Siang hari, pemilik kembali membawa ke klinik. Dilakukan rontgen dan pemeriksaan darah.

WBC: 23.7 x 109 /L.

Creatinine: >10 mg/dl

Urea: >300 mg/dl

GPT: 129 µ/l.

Dari radiography, diduga adanya hernia inguinal.

(Catatan medis sebelumnya, tommy merupakan stray cat yg ditemukan pada umur sekitar 3 bulan, langsung di bawa ke klinik pada saat itu. Berat badan 650 gr. Kondisi aktif, ada hernia pada sebelah kiri lateral inguinal. Tidak dapat kencing secara normal, sehingga harus dilakukan palapasi pada bladder untuk membantu mengeluarkan urine selama satu minggu. Diberikan vaksinasi satu bulan kemudian. Dilakukan repair hernia surgery saat tommy berusia 7 bulan. Selanjutnya, menurut pemilik, tommy sangat active dan dapat makan, minum ,kencing serta defekasi secara normal).

Rawat inap (hari ke 1). Diberikan fluid therapy, ornipural (liver supplement), dan azodyl (kidney supplement).

Hari ke 2, tommy lebih aktif, tetapi tidak ada urinasi dan defekasi.

Hari ke 3, tommy muntah, tidak ada urine, tidak aktif. Bladder tidak dapat dipalpasi.

Dari USG, sulit untuk menemukan bladder. Nampak dilatasi pada bagian renal pelvis, yang merupakan ciri dari hydronephrosis (gambar 1). Dilakukan kateterisasi, namun tidak banyak urine yang keluar. Karena tidak terlihat bladder secara jelas, maka dilakukan contrast study (urograph) dengan menggunakan iohexol melalui kateter. Bladder nampak keluar dari tempatnya (gambar 2 dan 3).

Selanjutnya dilakukan nephrograph dengan metode low volume rapid injection. Nampak adanya sumbatan pada bagian ureter (gambar 4). Diduga, posisi bladder yang berputar dan keluar dari inguinal mengakibatkan ureter tersumbat.

Dilakukan kembali pemeriksaan darah

Creatinine: >10 mg/dl

Urea: >300 mg/dl

GPT: 67 µ/l.

Hari ke 4, tommy muntah, diare mucous berwarna kuning. Tidak ada urine, walaupun kateter tetap terpasang

Hari ke 5, tommy mati dengan keluar cairan berbau urine dari mulut dan hidung.